ADS

Neither Sukarnov Nor Suhartov (Amar Munkar Nahi Nakir)

Andaikan setelah meninggal kelak aku dilupakan orang, insyaallah itu lebih menguntungkan dibanding diingat-ingat, dikenang, apalagi dipuja-puja. Sebab prosentase dosa hidup aku lebih besar dibanding kebaikan saya. Dipuja mustahil, dikenang pasti: oleh anak istri dan keluarga saya. Tapi jikalau diingat-ingat, agak mengkhawatirkan, saking banyaknya dosa saya.

Tetapi sejumlah orang Indonesia dikenang manis, diingat-ingat kebaikannya, serta terkadang dipuja-puja – meskipun kadar dan kedalamannya berbeda-beda. Misalnya Bung Karno yakni kenangan bagus dan penuh kebanggaan. Pak Harto ada yang kagum ada yang mengutuk, sebagaimana Gadjah Mada. Kalau ditanya bagaimana kesan perihal Muhammad Natsir, Haji Agus Salim, Tan Malaka, Kasman Singodimejo, Syaikhona Kholil, belum dewasa muda kini menoleh ke kanan kiri dengan wajah bengong.

Kalau mengingat Gus Dur, biasanya orang lantas tersenyum, tertawa, atau bahkan tertawa cekikian dan geleng-geleng kepala. Ketika aku tempuh sejumlah proses menuju Gus Dur jumenengan Presiden, aku persyarati dua hal. Pertama, problem Aceh dan GAM harus beres. Kedua, sebagai pemimpin Negara jangan ada lagi persambungan dengan Kanjeng Ratu Kidul (Nawang Wulan) maupun Nyi Roro Kidul (Nawang Sih) saudara kembarnya.

Gus Dur bilang dia sudah kirim SMS ke Kanjeng Ratu Kidul. Saya jengkel oleh jawabannya. “SMS gimana?”. Gus Dur menjawab sambil membaringkan tubuh ke Kasur: “Saya suruh dia pakai jilbab…”. Kemudian dia tertawa xixixixi dan sesaat kemudian memejamkan mata dan tertidur. Saya pegang kepala aku dan aku jambak rambut saya. Saya yakin Einstein, Bheethoven, Bill Gates, bahkan pun Ned Kelly hingga di tiang gantungan tak pernah memasuki wilayah imajinasi seliar Gus Dur.
   
Orator terdahsyat yang pernah aku jumpai, alami dan saksikan eksklusif yakni almarhum Ustadz Yasin Hasan Abdullah Bangil. Seorang lelaki gagah, sabuk tebal model tukang sate Madura di pinggangnya, vokalnya adonan antara Bung Karno, Sultan Hamengkubuwono IX, Rendra, Sutardji Calzoum Bachri dan Nabi Dzulqornain. Dia berpidato menggambarkan betapa pasukan Belanda gemetar badannya hanya ketika melihat gambar surban putih Pangeran Diponegoro.

“Hanya surbannya, Saudara-saudara”, suaranya lantang membelah angkasa, “baru
surbannya. Belum jubah putihnya yang bergerai menembus angin di atas kudanya yang gagah. Kerajaan Belanda hampir melarat gara-gara pemberontakan Pangeran Diponegoro dengan surbannya. Saudara-saudara, bisakah kamu bayangkan Diponegoro pakai helm…?”

Gus Dur bukan orator yang gagah penampilannya. Gus Dur yakni tipe Juara Favorit. Tetapi imajinasi perihal Ratu Kidul pakai Jilbab dan Pangeran Diponegoro pakai helm, berdasarkan aku termasuk yang harus kita monumenkan di World Hall of Fame. Apalagi ketika pagi hari pukul 08.00 setelah malamnya dia di-impeachment aku dan istri tiba ke Istana sebelum tamu-tamu lainnya, dan aku tanya: “Ngapain to Gus kok bikin Dekrit segala?”

Gus Dur menjawab enteng: “Lha sudah usang sekali ndak ada Dekrit, Cak. Terakhir kan tahun 1959”.
Saya kejar, “kok ndak Sampeyan hitung segala sesuatunya. Saya kan nunggu Sampeyan telepon, siapa tahu aku pas punya materi untuk turut mempertimbangkan perlu Dekrit atau formula lain?”

Gus Dur menjawab lebih enteng lagi dengan Bahasa Jombang: “Cak jenenge teplèk iku yo kadang menang kadang kalah. Biasane nek mulih isuk kemul-kemul sarung, berarti menang. Nek kalah malah mulih pakaian rapi, cèk diarani menang”. “Cak, namanya juga judi, kadang kalah kadang menang. Biasanya jikalau pulang judi berselimut sarung itu tanda menang. Kalau kalah judi, pulang ke rumah berpakaian rapi, semoga orang menyangka dia menang…”

Tony Koeswoyo menulis lirik seperti untuk Gus Dur: “Terlalu indah dilupakan, terlalu murung dikenangkan…”. Tetapi semua orang punya rasa rindunya masing-masing kepada Bapak-Bapak kita terdahulu. Juga Gus Dur. Ada yang mengabarkan kepada aku bahwa Gus Dur hingga hari ini belum berangkat ke Alam Barzakh. Beliau masih berada di Tebuireng. Ada problem prosedural yang belum dapat diatasi, terkait dengan manajemen Malaikat Munkar dan Nakir.

Kalau penziarah terakhir sudah meninggalkan kuburan kita sejauh 70 langkah, gres Malaikat Munkar dan Nakir hadir untuk berurusan dengan si jago kubur. Lha sudah sekian tahun orang-orang yang menziarahi makam Gus Dur tak pernah reda. Belum pernah ada momentum penziarah terakhir meninggalkan kuburan 70 langkah. Kaprikornus sekian tahun ini Gus Dur hanya berpandangan dari jauh dan saling melambaikan tangan dengan Malaikat Munkar dan Nakir.

Mungkin sebab bosan, terkadang Gus Dur ke luar ke jalan besar antara Jombang-Pare. Lihat-lihat situasi. Dan yang paling menarik yakni banyak truk-truk yang di kolam belakang atau samping ada foto Pak Harto dengan kalimat “Piye kabarmu, Lé? Penak zamanku tho?”. Apa kabar kalian, Nak? Lebih yummy hidup di zaman aku dulu kan?

Itu menciptakan Gus Dur sangat kangen dan ingin segera mencari Pak Harto. Nanti di alam sana syukur-syukur juga ketemu Bung Karno, Sunan Kalijaga, atau malahan Gorbachev dan Anton Chekhov. Andaikan ketemu Ken Arok dan Gadjah Mada. Gus Dur mau konfirmasi kepada Ken Arok: “Apa dulu di bumi, Sampeyan ini benar-benar ada? Jangan-jangan Sampeyan ini hanya dikarang oleh para penjajah, semoga bangsa Indonesia merasa masa silamnya buram dan tak punya idola di antara nenek moyangnya”. Kepada Gadjah Mada juga Gus Dur bertabayyun: “Apa benar Sampeyan dulu mencegat rombongan Prabu Siliwangi? Kok ndak SMS aku dulu tho?”

Tetapi sepertinya yang paling diinginkan Gus Dur yakni bercerita kepada Pak Harto perihal truk-truk itu. Dan jikalau Pak Harto bertanya “apa benar rakyat daripada Indonesia kini menganggap zaman aku lebih baik dibanding daripada zaman sekarang?”. Gus Dur, aku perkirakan menjawab: “Benar sekali itu Pak Harto. Selama Orla rakyat kita punya Pak Karnov. Di zaman Orba mereka punya Pak Hartov. Lha di ujung Reformasi palsu kini ini rakyat dibikin retak-retak kepalanya oleh Pak Setnov… Apalagi berdasarkan para analis, jumlah Setnov di Indonesia tidak satu, melainkan sangat banyak, dengan kaliber yang berbeda-beda. Pendidikan keindonesiaan beberapa puluh tahun terakhir ini menumbuh-kembangkan potensi Setnov di dalam jiwa dan mental bangsa…”

Kalau Pak Harto tampak prihatin wajahnya mendengar itu dan nyeletuk: “Lho kok malah Amar Munkar Nahi Nakir”,  Gus Dur menghiburnya: “Sudah tho Pak. Gitu aja kok repot..”.


Yogya, 2 Oktober 2017
Emha Ainun Nadjib
#Khasanah

https://www.caknun.com/2017/neither-sukarnov-nor-suhartov/

Subscribe to receive free email updates:

ADS