ADS

Kiai Hologram (Tuhan Itu Ada Beneran, Po?)

Aku tidak pernah beranggapan bahwa ada orang, terutama di zaman sangat modern ini, yang butuh dinasihati, diceramahi, dikasih pengajian atau minta pencerahan. Tetapi jikalau kebetulan ada yang berlaku menyerupai itu kepadaku, saya menjawab: “Aku tak punya apa-apa yang kau perlukan. Tapi mungkin kalimat Tuhan ini ada gunanya buatmu: Orang-orang yang mengingat Allah sambil bangun atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan perihal penciptaan langit dan bumi seraya berkata: Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau membuat ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.

Dahsyat informasi itu: “tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia”. Maka kata-kata anakku perihal Dmitry Itskov, sangat menggangguku. Meskipun aslinya ia bukan siapa-siapa bagiku, apalagi saya baginya.

Ada yang lantas merespons dengan pertanyaan: “Tuhan itu ada beneran, po?”. Kujawab: “Sebagai orang yang sudah tua, kupilihkan tanggapan begini: Mending kau pilih percaya ada Tuhan saja. Kalau ternyata nggak ada, kau tak menerima problem apa-apa. Tapi jikalau ternyata ada, kau sudah lebih siap...”

Kalau memungkinkan, kutambahkan ini: “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya pula, dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang berair atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata, yakni Lauh Mahfudz

Aku sangat merasa asik dengan pernyataan Allah “tidak ada yang mengetahui yang ghaib kecuali Dia sendiri”. Aku hidup di jagat raya ghaib. Tak ada sesuatu hal yang sungguh-sungguh saya mengerti. Di hadapan Tuhan saya merasa kondusif berbekal ketidakpahaman, alasannya tak ada risiko aturan bagi yang tidak paham.

Itu tidak hanya menyangkut kenapa saya dipaksa menjadi orang Jawa. Tanpa tawar-menawar dijadikan putra Ibu-Bapakku. Tidak dikasih tahu berapa jatah detak jantungku. Kenapa pertumbuhan sel-selku dilarang pada tinggi tubuh sekian. Meskipun saya bersyukur bab tertentu dari jasadku dilarang pertumbuhannya oleh Allah.

Bayangkan jikalau kelaminmu dibiarkan terus bertumbuh, memuai dan memanjang. Sampai satu meter saja sudah susah bukan main. Bagaimana jikalau satu kilometer. Bayangkanlah teknologi dan tata budaya yang kau perlukan dan kau repotkan di lingkunganmu.

Aku bahkan merasa hampir selalu ditakdirkan oleh Tuhan untuk banyak berada di tengah sesuatu yang tidak kupahami. Misalnya Tuhan kasih saya hobi bahagia tidur di kuburan, tetapi pada ketika yang sama saya sangat takut kepada hantu. Banyak hal lainnya yang saya mengalami dilema antara hobi dengan kondisi mentalku. Pada suatu Subuh di tahun 1965 saya dibisiki Bapakku semoga merapikan kuburan liar di bersahabat Pohon Keningar di loré omah dusunku.

Antara agresif dan takut saya datangi kawasan itu sendirian. Memang ada keadaan tanah menyerupai barusan digali kemudian ditutupi kembali. Aku menggali tanah di sampingnya lebih dalam, sesuai dengan perintah Bapakku. Kemudian kupindahkan mayat itu ke lubang yang kugali. Aku menshalatkannya, kemudian pulang untuk sarapan pagi menjelang pergi sekolah.

Sampai hari ini saya tidak tahu itu mayat siapa. Memang sedang ada ribut-ribut soal PKI, tapi saya tidak tahu itu mayat orang PKI atau yang dibunuh oleh PKI. Gara-gara pengalaman di bawah Keningar ini saya menjadi mulai tidak terlalu takut kepada hantu. Sebelumnya yang paling kucemaskan yaitu ketemu anjing berkepala orang. Ketemu orang tidak berwajah kecuali daging dan kulit rata saja. Kalau sekadar ketemu “Glundhung Pringis” malah kuajak main. Kami bawah umur desa bahkan sering main dengan “Jailangkung”.

Tetapi jikalau ketemu “Banaspati” sanggup pingsan aku. Atau “kemamang” yang sanggup mengancam nyawaku. Meskipun kelak kuhibur diriku dengan pengetahuan dari Guruku bahwa itu bukan hantu melainkan kejadian “fluoresensi” atau entah apa nama tepatnya.

Karena di masa kanak-kanak kuburan yaitu salah satu habitat utamaku, lama-lama saya terpengaruh oleh perilakunya. Dan di masa cukup umur ternyata saya sendiri menjadi semacam hantu. Di mana-mana tiap hari ratusan orang bawa botol air minta kutiup untuk “tombo” ketenangan hati, istrinya mohon hamil, Ibu sakit tumor, keluarga bentrok terus dll. Aku diperlakukan sebagai Dukun, tanpa saya mengerti apa-apa perihal itu semua. Aku tidak pernah tega untuk menolak “nyuwuk”. Kuhibur diriku dengan berpikir niscaya Tuhan yang menyuruh mereka kepadaku, sehingga Tuhan juga yang bertanggung jawab dan mem-follow up-i prosesnya.

Tuhan menyorongku ke wilayah dan fungsi-fungsi yang saya bekerjsama hanya “kambing congèk” belaka. Disuruh ceramah menyerupai Ekspert Intelektual, padahal terang Sekolah Menengan Atas saja lulusan darurat. Disuruh jadi seniman, padahal setiap habis berkarya kukutuk sendiri hasilku. Disuruh jadi semacam Ulama, Kiai, Ustadz atau apapun, 6-8 jam sekali pertemuan, 10-15 kali sebulan. Nanti mereka mengejekku: “Di mana Kiai dadakan itu mencar ilmu Agama? Emang pernah lihat Kitab Kuning? Apa menguasai Bahasa Arab? Pernah di Pesantren hanya mencar ilmu “Mahfudlat” alias kata-kata mutiara, kemudian diusir. Nasabnya ia turunan siapa? Nambi, Layang Seto Layang Kumitir, atau Sabdopalon Noyogenggong?”.

Sebenarnya gampang jawabannya, pakai fenomenologi Itskoviyah: “O, ia cuma Hologram. Bukan Manusia”.

Jakarta, 14 Oktober 2017
Emha Ainun Nadjib
#Khasanah

https://www.caknun.com/2017/kiai-hologram/



Subscribe to receive free email updates:

ADS