Pahala-pahala gratis menyerupai itu Mbah Sot peroleh ratusan kali di banyak tempat. Acara ceramah di sebuah Universitas di Mandar mendadak dibatalkan oleh pihak yang berwajib, menciptakan kami memindahkannya menjadi program silaturahmi di rumah orisinil tokoh akhlaqul karimah Baharudin Lopa di Pambusuhan, tempat Waliyullah Muhammad Thahir Imam Lapeo, yang juga santrinya Syaikhona Kholil Bangkalan sebagaimana Mbah Yai Hasyim Asy’ari.
Pembubaran yang sama atas program di sebuah Universitas Lampung, menciptakan Mbah Sot sempat menengok anak sulung Mbah Sot yang bersekolah di Sekolah Menengah Pertama Nasrani Metro Lampung Tengah.
Pembatalan pentas teater “Pak Kanjeng” di Yogya dan Surabaya yang temanya ialah penggusuran desa-desa Kedungombo, melahirkan pengalaman batin dan politik yang luar biasa. Menambah jumlah saudara dan sahabat. Pak Permadi dan Gendheng Pamungkas tiba ke rumah menyatakan keprihatinan atas pembubaran acara, yang bahwasanya Mbah Sot syukuri, alasannya ialah menciptakan Mbah Sot jadi bersahabat dengan dua tokoh absurd itu.
Bahkan penganiayaan politik itu membangkitkan dan mengkreatifkan ikhtiar pembelaan Mbah Sot dan teman-teman kepada penduduk desa Kedung Pring dan Mlangi, yang naik mengungsi ke bukit-bukit, menolak penggusuran, sehingga Pak Harto pidato murka di Solo dan menyebut mereka “hambegugug ngutho waton”. Semacam kepala batu. Tanpa Pak Harto, Gubernur Jateng Pak Ismail dan putranya, serta Pemerintah Provinsi menyadari bahwa “hambegugug ngutho waton” itu diapresiasi dan dipuji oleh Tuhan, asal dilakukan kepada penguasa yang “adigang adigung adiguna”. Alias mentang-mentang.
“At-takabburu lil-mutakabbiri shodaqotun”. Bersikap sombong kepada pihak yang menyombongi itu bernilai sedekah. Sampai-sampai saat Mbah Sot dan teman-teman membawa truk berisi beras bertumpuk di bak-nya, Pak Jenggot pemimpin Kedung Pring dan Mlangi menolaknya. Padahal susah truk mencapai tempat di perbukitan itu. Tapi nekat Mbah Sot dan teman-teman mengangkut beras itu dari truk ke depan rumah-rumah darurat mereka. Pak Jenggot menyatakan: “Kami ini tidak miskin. Tidak minta-minta beras atau apapun. Kami kaya. Desa kami makmur. Tapi direndam oleh Pemerintah. Sampai Masjid dan Kuburan juga tenggelam”.
Penduduk Kedungombo itu seakan-akan menyerupai yang digambarkan di Kitab Suci: “Dan Kami naungi kau dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu “manna” dan “salwa”. Makanlah dari kuliner yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu”. Tiba-tiba lalu tiba penguasa dholim mengusir dari desa-desa mereka, serta menganiaya kehidupan mereka. Dan Tuhan sangat terang menyatakan perihal para penganiaya itu: “tidaklah mereka menganiaya Kami; akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri”. [1] (Al-Baqarah: 57)
Dengan terbata-bata tapi setengah murka Mbah Sot merespons: “Kalau soal tertindas, saya juga tertindas, Pak Jenggot. Beras dan apa saja yang kami bawa ke sini tidak merupakan dukungan atau sedekah. Ini bukan wujud rasa kasihan. Ini saya membayar hutangnya Pemerintah kepada rakyatnya. Mereka tidak mengerti bahwa mereka berhutang. Mereka merasa mempunyai Negara dan kekayaan tanah air ini dan merasa bahwa mereka berhak memilih segala sesuatu, alasannya ialah kepintaran dan kekuasaannya”
Akhirnya Pak Jenggot dan semua pengungsi menerima. Mereka insan luar biasa. Mereka tahu bagaimana Markesot sangat sering menemani mereka, menyeberang danau dengan bahtera kecil, tidur di krakal sawah-sawah. Berkejaran dengan Polisi dan Tentara. Almarhum sahabat Franky Sahilatua ikut bersimpati dan tiba ke Kedungombo untuk menciptakan video klip album “Perahu Retak”. Teman-teman Markesot di Padhangmbulan Jombang rutin mengumpulkan dana untuk men-support saudara-saudara mereka pengungsi Kedungombo.
Pak Jenggot itu tokoh utama dalam reportoar teater kami “Pak Kanjeng”. Pak Kanjeng ialah Pak Jenggot itu. Pentas drama itu diperkuat dengan bunyi musik. Dan gamelan yang digunakan untuk menghiasi drama Pak Kanjeng itu lalu dikasih nama: Gamelan KiaiKanjeng.
Pembubaran yang sama atas program di sebuah Universitas Lampung, menciptakan Mbah Sot sempat menengok anak sulung Mbah Sot yang bersekolah di Sekolah Menengah Pertama Nasrani Metro Lampung Tengah.
Pembatalan pentas teater “Pak Kanjeng” di Yogya dan Surabaya yang temanya ialah penggusuran desa-desa Kedungombo, melahirkan pengalaman batin dan politik yang luar biasa. Menambah jumlah saudara dan sahabat. Pak Permadi dan Gendheng Pamungkas tiba ke rumah menyatakan keprihatinan atas pembubaran acara, yang bahwasanya Mbah Sot syukuri, alasannya ialah menciptakan Mbah Sot jadi bersahabat dengan dua tokoh absurd itu.
Bahkan penganiayaan politik itu membangkitkan dan mengkreatifkan ikhtiar pembelaan Mbah Sot dan teman-teman kepada penduduk desa Kedung Pring dan Mlangi, yang naik mengungsi ke bukit-bukit, menolak penggusuran, sehingga Pak Harto pidato murka di Solo dan menyebut mereka “hambegugug ngutho waton”. Semacam kepala batu. Tanpa Pak Harto, Gubernur Jateng Pak Ismail dan putranya, serta Pemerintah Provinsi menyadari bahwa “hambegugug ngutho waton” itu diapresiasi dan dipuji oleh Tuhan, asal dilakukan kepada penguasa yang “adigang adigung adiguna”. Alias mentang-mentang.
“At-takabburu lil-mutakabbiri shodaqotun”. Bersikap sombong kepada pihak yang menyombongi itu bernilai sedekah. Sampai-sampai saat Mbah Sot dan teman-teman membawa truk berisi beras bertumpuk di bak-nya, Pak Jenggot pemimpin Kedung Pring dan Mlangi menolaknya. Padahal susah truk mencapai tempat di perbukitan itu. Tapi nekat Mbah Sot dan teman-teman mengangkut beras itu dari truk ke depan rumah-rumah darurat mereka. Pak Jenggot menyatakan: “Kami ini tidak miskin. Tidak minta-minta beras atau apapun. Kami kaya. Desa kami makmur. Tapi direndam oleh Pemerintah. Sampai Masjid dan Kuburan juga tenggelam”.
Penduduk Kedungombo itu seakan-akan menyerupai yang digambarkan di Kitab Suci: “Dan Kami naungi kau dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu “manna” dan “salwa”. Makanlah dari kuliner yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu”. Tiba-tiba lalu tiba penguasa dholim mengusir dari desa-desa mereka, serta menganiaya kehidupan mereka. Dan Tuhan sangat terang menyatakan perihal para penganiaya itu: “tidaklah mereka menganiaya Kami; akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri”. [1] (Al-Baqarah: 57)
Dengan terbata-bata tapi setengah murka Mbah Sot merespons: “Kalau soal tertindas, saya juga tertindas, Pak Jenggot. Beras dan apa saja yang kami bawa ke sini tidak merupakan dukungan atau sedekah. Ini bukan wujud rasa kasihan. Ini saya membayar hutangnya Pemerintah kepada rakyatnya. Mereka tidak mengerti bahwa mereka berhutang. Mereka merasa mempunyai Negara dan kekayaan tanah air ini dan merasa bahwa mereka berhak memilih segala sesuatu, alasannya ialah kepintaran dan kekuasaannya”
Akhirnya Pak Jenggot dan semua pengungsi menerima. Mereka insan luar biasa. Mereka tahu bagaimana Markesot sangat sering menemani mereka, menyeberang danau dengan bahtera kecil, tidur di krakal sawah-sawah. Berkejaran dengan Polisi dan Tentara. Almarhum sahabat Franky Sahilatua ikut bersimpati dan tiba ke Kedungombo untuk menciptakan video klip album “Perahu Retak”. Teman-teman Markesot di Padhangmbulan Jombang rutin mengumpulkan dana untuk men-support saudara-saudara mereka pengungsi Kedungombo.
Pak Jenggot itu tokoh utama dalam reportoar teater kami “Pak Kanjeng”. Pak Kanjeng ialah Pak Jenggot itu. Pentas drama itu diperkuat dengan bunyi musik. Dan gamelan yang digunakan untuk menghiasi drama Pak Kanjeng itu lalu dikasih nama: Gamelan KiaiKanjeng.
Yogya, 14 November 2017
#Daur
https://www.caknun.com/2017/alhamdulillah-dibubarkan/