Di tahun 1991 setelah hampir dua puluh tahun tidak ada demonstrasi mahasiswa, sahabat-sahabat muda Mbah Markesot bikin program demo besar di Boulevard Universitas Gadjah Mada, yang diberi judul “Anti Kekerasan”. Ada sesi pembakaran patung Pak Harto. Orator pencetus mahasiswa yang naik panggung yaitu Taufiq Rahzen, Rizal Mallarangeng, dan Brotoseno. Begitu masing-masing final pidato, sudah disiapkan kendaraan untuk membawa mereka ke suatu daerah yang aman.
Ternyata pasukan Tentara Nasional Indonesia dan Polisi Republik Indonesia tiba dalam jumlah besar, dipimpin eksklusif oleh Danrem dan Kapolda. Ketika demo selesai, para orator sudah diangkut menghilang. Massa yang selama sejam lebih teriak riuh rendah, teriak-teriak, mengacung-acungkan tinju: surut pelan-pelan. Tinggal Mbah Markesot. Kenapa dia kok masih di situ? Apakah Mbah Sot seorang pemberani sehingga pasang badan? Tidak. Sama sekali tidak.
Speaker butut yang digunakan untuk pidato-pidato di program demo itu menggunakan accu Jeep kuno bututnya Mbah Sot. Makara jikalau Mbah Sot mau lari, harus mengangkutnya dulu dari area demo menuju daerah parkir yang tidak mengecewakan jauh, lalu memasang kembali di mesin Jeep. Dengan sekedipan mata pasukan akan dengan gampang menangkapnya. Sebab dengan gampang tertangkap berair bahwa orang renta ini provokator demo itu. Apalagi Pak Harto enak-enak duduk di Istana merokok klobot, kok dibikin patung di Yogya, lantas dibakar. Itu penghinaan kepada Kepala Negara.
Maka daripada Mbah Sot salah tingkah, ia berjalan mendatangi Pak Danrem dan Pak Kapolda. Mbah Sot tanya kepada ia berdua: “Bagus nggak Pak program tadi?”. Ternyata ia berdua impulsif menjawab: “O bagus! Bagus!”. Mungkin memang cantik betul berdasarkan evaluasi ia berdua, atau mungkin impulsif terkena sugesti Mbah Sot.
Menurut Pakde Tarmihim, Mbah Sot itu menyerupai siluman. Bukan siapa-siapa, tapi ternyata temannya sangat banyak. Bukan tokoh, tapi nongol di mana-mana. Termasuk di kalangan mahasiswa. Banyak teman-teman di sekitar yang tidak paham-paham amat apa yang bekerjsama dilakukan atau diperjuangkan oleh Markesot. Ketika dikejar, Markesot hanya menjawab: “Fa idza faraghta fanshab, wa ila Robbika farghab”. [1] (Al-Insyirah: 7-8)
Suatu dikala para pencetus mahasiswa Islam berkumpul di sebuah Masjid akrab kampus Unibraw Malang, dan entah bagaimana ceritanya kok Mbah Sot yang bicara. Tapi tiba-tiba Ketua Panitia setengah berlari mendatangi Mbah Sot di depan, menginformasikan bahwa ada tamu Dandim dengan sejumlah prajurit. Mbah Sot eksklusif lompat dan berlari keluar ruangan, menemui ia Komandan.
Mbah Sot menyalami dan merangkulnya sambil berbisik: “Pak kita sama-sama orang tua. Percayakan kepada saya menemani belum dewasa kita ini berguru ber-Negara dan melatih kecerdasan Demokrasi. Kapan-kapan undang mereka ke rumah dinas Sampeyan, disembelihin ayam untuk jamuan makan siang atau malam. Sampeyan tunggu di sini, insyaallah kondusif semua. Nanti kita cari makan bareng dengan para prajurit”. Kemudian Mbah Sot balik ke ruangan dan meneruskan acara.
Entah bagaimana pimpinan prajurit itu duduk-duduk saja di luar dan menunggu Mbah Sot final acara. Kemudian mereka pergi bersama menyerupai sahabat lama.
Sejumlah sahabat membuntuti ke mana mereka pergi, tapi kehilangan jejak. Ketemu-ketemu di kantor Kodim mereka sedang foto-foto.
Ternyata pasukan Tentara Nasional Indonesia dan Polisi Republik Indonesia tiba dalam jumlah besar, dipimpin eksklusif oleh Danrem dan Kapolda. Ketika demo selesai, para orator sudah diangkut menghilang. Massa yang selama sejam lebih teriak riuh rendah, teriak-teriak, mengacung-acungkan tinju: surut pelan-pelan. Tinggal Mbah Markesot. Kenapa dia kok masih di situ? Apakah Mbah Sot seorang pemberani sehingga pasang badan? Tidak. Sama sekali tidak.
Speaker butut yang digunakan untuk pidato-pidato di program demo itu menggunakan accu Jeep kuno bututnya Mbah Sot. Makara jikalau Mbah Sot mau lari, harus mengangkutnya dulu dari area demo menuju daerah parkir yang tidak mengecewakan jauh, lalu memasang kembali di mesin Jeep. Dengan sekedipan mata pasukan akan dengan gampang menangkapnya. Sebab dengan gampang tertangkap berair bahwa orang renta ini provokator demo itu. Apalagi Pak Harto enak-enak duduk di Istana merokok klobot, kok dibikin patung di Yogya, lantas dibakar. Itu penghinaan kepada Kepala Negara.
Maka daripada Mbah Sot salah tingkah, ia berjalan mendatangi Pak Danrem dan Pak Kapolda. Mbah Sot tanya kepada ia berdua: “Bagus nggak Pak program tadi?”. Ternyata ia berdua impulsif menjawab: “O bagus! Bagus!”. Mungkin memang cantik betul berdasarkan evaluasi ia berdua, atau mungkin impulsif terkena sugesti Mbah Sot.
Menurut Pakde Tarmihim, Mbah Sot itu menyerupai siluman. Bukan siapa-siapa, tapi ternyata temannya sangat banyak. Bukan tokoh, tapi nongol di mana-mana. Termasuk di kalangan mahasiswa. Banyak teman-teman di sekitar yang tidak paham-paham amat apa yang bekerjsama dilakukan atau diperjuangkan oleh Markesot. Ketika dikejar, Markesot hanya menjawab: “Fa idza faraghta fanshab, wa ila Robbika farghab”. [1] (Al-Insyirah: 7-8)
Suatu dikala para pencetus mahasiswa Islam berkumpul di sebuah Masjid akrab kampus Unibraw Malang, dan entah bagaimana ceritanya kok Mbah Sot yang bicara. Tapi tiba-tiba Ketua Panitia setengah berlari mendatangi Mbah Sot di depan, menginformasikan bahwa ada tamu Dandim dengan sejumlah prajurit. Mbah Sot eksklusif lompat dan berlari keluar ruangan, menemui ia Komandan.
Mbah Sot menyalami dan merangkulnya sambil berbisik: “Pak kita sama-sama orang tua. Percayakan kepada saya menemani belum dewasa kita ini berguru ber-Negara dan melatih kecerdasan Demokrasi. Kapan-kapan undang mereka ke rumah dinas Sampeyan, disembelihin ayam untuk jamuan makan siang atau malam. Sampeyan tunggu di sini, insyaallah kondusif semua. Nanti kita cari makan bareng dengan para prajurit”. Kemudian Mbah Sot balik ke ruangan dan meneruskan acara.
Entah bagaimana pimpinan prajurit itu duduk-duduk saja di luar dan menunggu Mbah Sot final acara. Kemudian mereka pergi bersama menyerupai sahabat lama.
Sejumlah sahabat membuntuti ke mana mereka pergi, tapi kehilangan jejak. Ketemu-ketemu di kantor Kodim mereka sedang foto-foto.
Yogya, 17 November 2017