“Bukan kasus pelik untuk melawan penguasa lalim, kalau benar-benar penguasa lalim dan rakyat tidak salah persepsi bahwa mereka yakni penguasa lalim. Itu spektrumnya sebatas Ilmu Katon yang kasat mata. Ilmu Katon tidak susah-susah amat meskipun sangat berbahaya dan “ngemu nyawa”. Tetapi dulu Jailangkung saja tergolong mainan anak-anak.”
“Yang susah yakni melawan penguasa lalim yang wajahnya utusan Allah, kostumnya Malaikat dan perilakunya Nabi. Ini masa kemunafikan. Pemalsuan menyerupai itu amat gampang dilakukan melalui seribu teknik pencitraan dan taktik “talbis”. Apalagi di era Medsos setiap orang sanggup menjadi wartawan, redaktur dan sekaligus penyebar berita, dengan cukup melakukannya sambil jongkok di WC.
Kemudian rakyat meyakini dengan mantap bahwa mereka dipimpin oleh Allah, Malaikat dan Nabi. Maka mereka siap mati untuk “bersyahadat” kepada “Allah”-nya, takjub kepada “Malaikat”-nya dan patuh membabi buta kepada “Nabi”-nya.”
“Tak kalah susah yakni menyikapi rekayasa talbis, black campaign, pencitraan hitam, manipulasi dan fitnah dari sobat kita sendiri, saudara kita sendiri, apalagi dari orang yang justru kita sayangi dan hidupi. Markesot pernah dibunuh oleh pihak semacam itu, tremor, berat badannya turun hingga 46 kg, perutnya berisi Logam-logam berat uranium dll. Tim dokter menyimpulkan usianya paling jauh tinggal 3,5 bulan. Intel Markesot sudah memegang semua data di belakang insiden itu. Tetapi Markesot menyampaikan bahwa ia sangat menikmati prestasi bahwa ia memaafkan dan mencintai orang-orang yang membunuhnya dengan biaya lebih lima miliar kalau pakai kurs sekarang.”
“Markesot pernah difitnah di panggung program Monas dikala ia meloncat ambil mikrofon dan memimpin Takbiran, untuk menghindari Pak Harto yang tiba menyalami. Bahkan kemudian Markesot dicitra-hitami di depan 2 juta rakyat di Alun-alun Utara Yogya, dalam suatu program “Pisowanan Agung” yang justru Markesot sendiri inisiatornya serta yang menunjukkan judul program itu. Sampai hari ini Markesot menahan diri untuk tidak mengizinkan tangannya bergerak untuk fitnah besar itu, meskipun secara nilai kehidupan tidak mengizinkan pengutang tak membayar dan pemberi utang tak mendapatkan pelunasan”.
“Ada majemuk cara untuk membubarkan program pengajian atau forum-forum apapun lainnya yang buruk, negatif dan ancaman di mata penguasa. Di halaman Masjid “Salman” ITB Bandung selesai 1980-an pementasan seorang Penyair bersama Kelompok Musik Dinasti, yang kini gamelannya dikenal sebagai KiaiKanjeng – digerebek dan dibubarkan oleh beberapa truk tentara”, Pakde Tarmihim meneruskan cerita-cerita kecilnya wacana Mbah Sot.
Musik stop, si Penyair berhenti bicara, kemudian sambil tersenyum turun dari panggung, berjalan masuk Masjid. Tak ada ketegangan apa-apa. Tak ada suasana atau insiden yang ekstrem atau mencolok. Para pemusik Dinasti menyertainya masuk Masjid.
Kenapa dibubarkan? Pertama, niscaya lantaran ada yang merasa berkuasa untuk membubarkan, di sisi lain ada pihak yang tak berkuasa untuk menolak pembubaran. Kedua, niscaya pihak yang membubarkan merasa yakin bahwa membubarkan program itu yakni pelaksanaan kebenaran. Adapun pihak yang dibubarkan, meskipun mungkin meyakini kebenaran pentasnya, namun tidak punya kekuasaan untuk melaksanakannya.
Pentas Musik-Puisi itu salah, entah muatannya atau unsur lainnya. Terserah kadar kesalahan itu yakni melanggar aturan hukum, melaksanakan perlawanan terhadap yang berkuasa, makar atau semacam perlawanan. Yang niscaya dan sudah terjadi yakni kebenaran membubarkan kesalahan.
Sebab “Kebenaran itu yakni dari Tuhanmu, alasannya yakni itu jangan sekali-kali kau termasuk orang-orang yang ragu”. [1] (Al-Baqarah: 147) Bahkan “Sesungguhnya Tuhanku mewahyukan kebenaran”. [2] (Saba: 48) Pembubaran terhadap pentas Musik-Puisi itu pastilah atas dasar wahyu Tuhan.
Yang berpengaruh dan berkuasa niscaya benar. Tidak ada selain Tuhan yang kuat, berkuasa dan niscaya benar. Di dalam sejarah, tokoh penguasa yang dikenal sebagai paling merasa dirinya Tuhan, yakni Fir’aun. Karena pasukan yang menggerebek dan membubarkan pentas Musik-Puisi itu terang bukan pasukan Fir’aun, maka pastilah itu tentara Tabi’inal Fir’aun.
Si Penyair menyadari itu, sehingga pembubaran itu tidak merisaukan hatinya dan tidak ia masukkan secara mendalam ke dalam hatinya. Ia bersama para pemusik turun dari panggung dan berjalan memasuki Masjid dengan verbal dan gerak-gerik yang normal dan biasa-biasa saja.
Para hadirin entah berapa ribu orang bergerak meringsek ke dalam Masjid. Tata lembaga tersusun rapi secara spontan. Si Penyair meneruskan pembacaan puisi dan pembicaraan yang tadi terhenti di panggung, tanpa sepatah kata pun ia sebut kata tentara, pembubaran acara, rezim otoriter, atau kata-kata besar dan keras apapun lainnya.
Alhamdulillah lembaga berlangsung hingga tuntas. Termasuk sesi tanya jawab. Mungkin sebagian hadirin kecewa tidak sanggup menikmati musik. Tapi tak apa. Musik kan tidak sedemikian pentingnya menyerupai shalat lima waktu.
Si Penyair bersyukur bahwa daerah program berpindah ke dalam Masjid, sehingga sisa pekerjaannya menjadi ringan. Sebab tidak pantas kalau alat-alat musik dibawa masuk. Pasukan tentara tidak mengejar mereka hingga masuk Masjid untuk menghalangi acara. Mungkin lantaran repot mencopot sepatu mereka.
“Yang susah yakni melawan penguasa lalim yang wajahnya utusan Allah, kostumnya Malaikat dan perilakunya Nabi. Ini masa kemunafikan. Pemalsuan menyerupai itu amat gampang dilakukan melalui seribu teknik pencitraan dan taktik “talbis”. Apalagi di era Medsos setiap orang sanggup menjadi wartawan, redaktur dan sekaligus penyebar berita, dengan cukup melakukannya sambil jongkok di WC.
Kemudian rakyat meyakini dengan mantap bahwa mereka dipimpin oleh Allah, Malaikat dan Nabi. Maka mereka siap mati untuk “bersyahadat” kepada “Allah”-nya, takjub kepada “Malaikat”-nya dan patuh membabi buta kepada “Nabi”-nya.”
“Tak kalah susah yakni menyikapi rekayasa talbis, black campaign, pencitraan hitam, manipulasi dan fitnah dari sobat kita sendiri, saudara kita sendiri, apalagi dari orang yang justru kita sayangi dan hidupi. Markesot pernah dibunuh oleh pihak semacam itu, tremor, berat badannya turun hingga 46 kg, perutnya berisi Logam-logam berat uranium dll. Tim dokter menyimpulkan usianya paling jauh tinggal 3,5 bulan. Intel Markesot sudah memegang semua data di belakang insiden itu. Tetapi Markesot menyampaikan bahwa ia sangat menikmati prestasi bahwa ia memaafkan dan mencintai orang-orang yang membunuhnya dengan biaya lebih lima miliar kalau pakai kurs sekarang.”
“Markesot pernah difitnah di panggung program Monas dikala ia meloncat ambil mikrofon dan memimpin Takbiran, untuk menghindari Pak Harto yang tiba menyalami. Bahkan kemudian Markesot dicitra-hitami di depan 2 juta rakyat di Alun-alun Utara Yogya, dalam suatu program “Pisowanan Agung” yang justru Markesot sendiri inisiatornya serta yang menunjukkan judul program itu. Sampai hari ini Markesot menahan diri untuk tidak mengizinkan tangannya bergerak untuk fitnah besar itu, meskipun secara nilai kehidupan tidak mengizinkan pengutang tak membayar dan pemberi utang tak mendapatkan pelunasan”.
***
Sambil tekun mencatat, rahasia Seger berencana untuk secara khusus menanyakan kepada para Pakde kenapa hal-hal dari masa silam yang tidak penting-penting amat itu diceritakan kepada mereka, dan harus dicatat dengan tertib. Tetapi Seger bersabar menunggu waktu yang tepat. Ia terus saja mencatat.“Ada majemuk cara untuk membubarkan program pengajian atau forum-forum apapun lainnya yang buruk, negatif dan ancaman di mata penguasa. Di halaman Masjid “Salman” ITB Bandung selesai 1980-an pementasan seorang Penyair bersama Kelompok Musik Dinasti, yang kini gamelannya dikenal sebagai KiaiKanjeng – digerebek dan dibubarkan oleh beberapa truk tentara”, Pakde Tarmihim meneruskan cerita-cerita kecilnya wacana Mbah Sot.
Musik stop, si Penyair berhenti bicara, kemudian sambil tersenyum turun dari panggung, berjalan masuk Masjid. Tak ada ketegangan apa-apa. Tak ada suasana atau insiden yang ekstrem atau mencolok. Para pemusik Dinasti menyertainya masuk Masjid.
Kenapa dibubarkan? Pertama, niscaya lantaran ada yang merasa berkuasa untuk membubarkan, di sisi lain ada pihak yang tak berkuasa untuk menolak pembubaran. Kedua, niscaya pihak yang membubarkan merasa yakin bahwa membubarkan program itu yakni pelaksanaan kebenaran. Adapun pihak yang dibubarkan, meskipun mungkin meyakini kebenaran pentasnya, namun tidak punya kekuasaan untuk melaksanakannya.
Pentas Musik-Puisi itu salah, entah muatannya atau unsur lainnya. Terserah kadar kesalahan itu yakni melanggar aturan hukum, melaksanakan perlawanan terhadap yang berkuasa, makar atau semacam perlawanan. Yang niscaya dan sudah terjadi yakni kebenaran membubarkan kesalahan.
***
Kalau sejarah insan tidak mempertanyakan bahwa yang mereka catat bergotong-royong yakni kebenaran-versi dan kesalahan-versi, yang sanggup berbalik kalau penguasanya berganti — maka sejarah harus menyimpulkan bahwa pihak yang benar itu yakni minimal utusan Tuhan langsung, atau malah mungkin perwujudan Tuhan itu sendiri.Sebab “Kebenaran itu yakni dari Tuhanmu, alasannya yakni itu jangan sekali-kali kau termasuk orang-orang yang ragu”. [1] (Al-Baqarah: 147) Bahkan “Sesungguhnya Tuhanku mewahyukan kebenaran”. [2] (Saba: 48) Pembubaran terhadap pentas Musik-Puisi itu pastilah atas dasar wahyu Tuhan.
Yang berpengaruh dan berkuasa niscaya benar. Tidak ada selain Tuhan yang kuat, berkuasa dan niscaya benar. Di dalam sejarah, tokoh penguasa yang dikenal sebagai paling merasa dirinya Tuhan, yakni Fir’aun. Karena pasukan yang menggerebek dan membubarkan pentas Musik-Puisi itu terang bukan pasukan Fir’aun, maka pastilah itu tentara Tabi’inal Fir’aun.
Si Penyair menyadari itu, sehingga pembubaran itu tidak merisaukan hatinya dan tidak ia masukkan secara mendalam ke dalam hatinya. Ia bersama para pemusik turun dari panggung dan berjalan memasuki Masjid dengan verbal dan gerak-gerik yang normal dan biasa-biasa saja.
Para hadirin entah berapa ribu orang bergerak meringsek ke dalam Masjid. Tata lembaga tersusun rapi secara spontan. Si Penyair meneruskan pembacaan puisi dan pembicaraan yang tadi terhenti di panggung, tanpa sepatah kata pun ia sebut kata tentara, pembubaran acara, rezim otoriter, atau kata-kata besar dan keras apapun lainnya.
Alhamdulillah lembaga berlangsung hingga tuntas. Termasuk sesi tanya jawab. Mungkin sebagian hadirin kecewa tidak sanggup menikmati musik. Tapi tak apa. Musik kan tidak sedemikian pentingnya menyerupai shalat lima waktu.
Si Penyair bersyukur bahwa daerah program berpindah ke dalam Masjid, sehingga sisa pekerjaannya menjadi ringan. Sebab tidak pantas kalau alat-alat musik dibawa masuk. Pasukan tentara tidak mengejar mereka hingga masuk Masjid untuk menghalangi acara. Mungkin lantaran repot mencopot sepatu mereka.
Yogya, 15 November 2017