Maiyah tak mempunyai kegunaan di Negerimu. Satu bangsa sanggup menjajah bangsa lain alasannya nasionalisme bangsa penjajah itu tidak diletakkan dalam spektrum universalisme kemanusiaan. Maiyah tidak begitu, tetapi bangsa yang dijajah itu lalu malah menyetujui spektrum itu, bahkan mengikuti jejak penjajahnya yang nasionalismenya bermakna primordialisme dan egosentrisme suatu rumpun insan yang secara “brutal” disebut bangsa.
Maka Maiyah tidak bermanfaat di Negerimu. Dan pada hakikatnya yang terjadi antara bangsa yang menjajah dengan yang dijajah bukanlah penjajahan, melainkan hubungan transaksional antara yang melacur dengan pelacurnya. Maiyah bukan dholimun, madhlumin maupun fasidin.
Maka Negerimu tidak punya kerangka berpikir untuk mendapatkan Maiyah. Sebab kategorisasi anutan modern meletakkan Maiyah di kotak alergi politik. Yang dikenali sebagai politik yaitu perangkat keras kekuasaan. Kepemimpinan yaitu jabatan. Derajat yaitu pangkat sosial. Itu pun dalam penyempitan spektrum kehidupan yang dinamakan Negara.
Sementara negeri Maiyah yaitu Al’alamin. Maiyah memahami insan sebagai sentra komprehensi antara konteks insaniyah, ubudiyah dan khilafah. Dialektika dari posisi rebah dalam semesta uluhiyah menjadi transformator rububiyah, membangun rahmah lil’alamin. Sebatas kadar liutammima makarimal akhlaq. Dengan ketergantungan kepada mulkiyatullah. Itu pun tidak mbentoyong memanggul kewajiban lebih dari wala tansa nashibaka minad-dunya. Skala Nasionalisme yaitu bidang garapnya.
Para pereguk mataair Maiyah tidak meliterasikan itu semua secara akademis, melainkan pribadi mengalami dan menikmatinya. Maiyah sangat meringankan perjalanan hidup, tapi sekaligus menyodorkan tantangan yang mungkin takkan pernah sanggup dilunasi. Sebab Maiyah menemukan tidak ada benda, tema dan insiden yang berdiri sendiri secara steril, parsial dan linier.
Seorang koruptor sanggup kirim biaya untuk membangun Masjid di kampungnya. Pelacur kelas tinggi sanggup menyisihkan uang untuk membagi modal kepada ratusan kelompok perjuangan kecil rakyat bawah. Pejabat tinggi memberantas maksiat sehingga mulus jalannya menuju jabatan lebih tinggi. Dengan baju Pewaris Nabi, seseorang sanggup mengkapitalisasikan sejumlah tema Agama, Nabi, bahkan Allah dan firman-Nya.
Sedangkan Maiyah saling mempersaudarakan, saling mengamankan, menolong, menggembirakan dan membahagiakan satu sama lain, dengan pamrih maksimal memperbanyak jumlah Al-Mutahabbina Fillah. Puluhan tahun sampai detik ini tak secuilpun terdapat sikap Maiyah yang indikatif terhadap kekuasaan, pangkat, jabatan, materialisme dan kapitalisme.
Maka tahun politik di Negerimu mulai tahun depan ini disyukuri oleh Maiyah alasannya “Apakah kau menerka bahwa kau akan masuk sorga, padahal belum tiba kepadamu cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?”. Allah menganugerahkan ujian itu kepada Maiyah.
Maka Maiyah tidak bermanfaat di Negerimu. Dan pada hakikatnya yang terjadi antara bangsa yang menjajah dengan yang dijajah bukanlah penjajahan, melainkan hubungan transaksional antara yang melacur dengan pelacurnya. Maiyah bukan dholimun, madhlumin maupun fasidin.
Maka Negerimu tidak punya kerangka berpikir untuk mendapatkan Maiyah. Sebab kategorisasi anutan modern meletakkan Maiyah di kotak alergi politik. Yang dikenali sebagai politik yaitu perangkat keras kekuasaan. Kepemimpinan yaitu jabatan. Derajat yaitu pangkat sosial. Itu pun dalam penyempitan spektrum kehidupan yang dinamakan Negara.
Sementara negeri Maiyah yaitu Al’alamin. Maiyah memahami insan sebagai sentra komprehensi antara konteks insaniyah, ubudiyah dan khilafah. Dialektika dari posisi rebah dalam semesta uluhiyah menjadi transformator rububiyah, membangun rahmah lil’alamin. Sebatas kadar liutammima makarimal akhlaq. Dengan ketergantungan kepada mulkiyatullah. Itu pun tidak mbentoyong memanggul kewajiban lebih dari wala tansa nashibaka minad-dunya. Skala Nasionalisme yaitu bidang garapnya.
Para pereguk mataair Maiyah tidak meliterasikan itu semua secara akademis, melainkan pribadi mengalami dan menikmatinya. Maiyah sangat meringankan perjalanan hidup, tapi sekaligus menyodorkan tantangan yang mungkin takkan pernah sanggup dilunasi. Sebab Maiyah menemukan tidak ada benda, tema dan insiden yang berdiri sendiri secara steril, parsial dan linier.
Seorang koruptor sanggup kirim biaya untuk membangun Masjid di kampungnya. Pelacur kelas tinggi sanggup menyisihkan uang untuk membagi modal kepada ratusan kelompok perjuangan kecil rakyat bawah. Pejabat tinggi memberantas maksiat sehingga mulus jalannya menuju jabatan lebih tinggi. Dengan baju Pewaris Nabi, seseorang sanggup mengkapitalisasikan sejumlah tema Agama, Nabi, bahkan Allah dan firman-Nya.
Sedangkan Maiyah saling mempersaudarakan, saling mengamankan, menolong, menggembirakan dan membahagiakan satu sama lain, dengan pamrih maksimal memperbanyak jumlah Al-Mutahabbina Fillah. Puluhan tahun sampai detik ini tak secuilpun terdapat sikap Maiyah yang indikatif terhadap kekuasaan, pangkat, jabatan, materialisme dan kapitalisme.
Maka tahun politik di Negerimu mulai tahun depan ini disyukuri oleh Maiyah alasannya “Apakah kau menerka bahwa kau akan masuk sorga, padahal belum tiba kepadamu cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?”. Allah menganugerahkan ujian itu kepada Maiyah.