ADS

Delapan Dari Sepuluh (Maiyah Bukan Prestasi)

Di tengah panas terik dan puncak kehausan, seteguk air itu dahsyat, nikmat, ajaib, bahkan serasa “mukjizat”. Bukan alasannya setetes air itu sebanding mutunya dengan segelas Es Teler, melainkan alasannya kadar rasa syukur orang yang sedang sangat haus.

Andaikan Maiyah itu semacam seteguk air: dia bukanlah karya, bukan prestasi, bukan sukses, bukan keberhasilan dan kejayaan siapapun saja. Tak ada selain Allah yang bisa menyelenggarakan keajaiban. Karena keajaiban itu juga diperuntukkan hanya bagi yang Allah memperkenankannya, sehingga mengalami keajaiban itu.

Batu besar menggunduk di jalanan Maiyah hari ini yakni impian dan “semacam nafsu” biar Allah mengeksekusikan keajaiban yang lebih besar dan nyata kepada Indonesia dan Dunia, dalam wujud dan dosis menyerupai yang didambakan oleh hati para pejalan Maiyah. Ingin Allah lebih segera “menagih hutang”, “merampas kembali segala yang dirampok”, “membangkitkan kembali semua yang dirobohkan”, “mengangkat yang dilemahkan menjadi pemimpin, dan menjadikannya pewaris kekuatan-Nya”.

Maiyah menemani hamba-hambaNya di ribuan titik. Memohon pembengkakan jumlah Al-Muhtadin dan Al-Mutahabbina Fillah. Bershadaqah ikhtiar menghimpun mereka ke dalam Cinta Segitiga dengan Allah dan Rasulullah. Tetapi Maiyah tidak memasuki pagar Demokrasi, alasannya sabda Rasulullah saw: “Wahai Abdurrahman, jangan minta jadi pemimpin. Kalau kau jadi pemimpin alasannya undangan atau keinginanmu, maka semua urusan menjadi urusanmu sendiri, Allah tidak mau tahu. Tapi jikalau kau jadi pemimpin bukan atas permintannmu atau keinginanmu, Allah akan membantumu.

Para pelaku Maiyah merdeka untuk tidak bisa bertahan berada di luar pagar. Mereka mempunyai hak asasi untuk memasuki Demokrasi, mencalonkan diri menjadi pemimpin, memamerkan kebaikan dan kehebatannya di baliho-baliho sepanjang jalan. Minimal menjadi relawan catnya, garisnya, font-nya, kayu framing-nya, atau logam penyangganya. Syukur nanti katut jadi Menteri, Dirjen, Sekjen, Dirut, Komisaris, Rektor, Dekan, Duta Dialog Peradaban, sekurang-kurangnya kesrèmpèt proyek.
Para pelaku Maiyah lainnya bertahan dalam sunyi: “Qulillahumma Malikal mulki tu`til mulka man tasya`…”. “Kulla ma nadaita ya Hu, qala ya ‘abdi ana-Llah”.






Subscribe to receive free email updates:

ADS