Belum sempat menyentuh makanan pesanannya di area warung lesehan terkenal, Markesot tiba-tiba mendengar bunyi gedebug-gedebug. Ketika ia impulsif menoleh ke arah itu, dilihatnya seseorang memukul wajah seseorang lainnya sehingga jatuh terkapar. Markesot pribadi melompat dan menjatuhkan diri telungkup di atas lelaki yang terkapar itu. Darah meleleh dari pangkal hidungnya sebelah kiri di bawah jidat dan alisnya.
Kalau melihat letak titik lukanya dan merangkaikan dengan jenis gerakan dan posisi pemukulannya, sepertinya yang membikin luka yaitu “sikut” jari tengah atau minimal jari telunjuk, yang dipukulkan dengan posisi sangga genggaman yang tidak menyerupai genggaman tangan biasanya. Itu referensi pukulan dari suatu jenis bela diri tertentu.
Sambil tangannya memeluk lelaki itu, Markesot menoleh ke atas, ke arah lelaki yang memukulnya. Tidak omong apa-apa, tapi sorot mata dan sedikit gerak tangannya memberikan supaya jangan diteruskan, dan mohon tunggu sebentar. Lelaki pemukul itu mundur beberapa langkah. Markesot pelan-pelan mendudukkan si terkapar itu, kemudian diangkat berdiri, dituntun ke arah dapur warung untuk mencari air dan kain.
Tengah-tengah berjalan Markesot gres melihat bahwa pakaiannya belepotan darah, yang rupanya cukup deras mengalir, terutama ketika Markesot menjatuhkan diri menelungkupinya. Sesampai di dapur Markesot membasuh luka lelaki itu dan membersihkan sekitar wajah dan baju atasnya hingga bersih. Beberapa ketika kemudian gres si lelaki luka itu tiba-tiba setengah berteriak: “Ya Allah Pak Markesot… Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad…”
Markesot menuntunnya duduk di kursi. Minta kepada salah seorang pekerja warung itu untuk mengambilkan segelas air. Ibu pemilik warung itu dengan wajah setengah cemas setengah bangga berkata kepada Markesot: “Titip ya Pak, memang anak ini kurang baik perangainya…”. Markesot tentu saja belum paham apa maksud Ibu itu. Tapi ia harus segera beranjak mendatangi lelaki yang memukulnya tadi. Semua yang sedang makan di area luas warung itu melihatnya.
Tetapi itu tidak terjadi, lantaran Markesot lompat menelungkupi lelaki yang jatuh tertelentang lantaran dipukul. Tidak terjadi perlawanan terhadap si pemukul. Sangat dapat dimaklumi lantaran tiga sebab. Pertama, Markesot bukan seorang pemberani, tidak punya jiwa perlawanan terhadap kedhaliman. Kedua, Markesot tidak punya keahlian untuk berkelahi. Ketiga, Markesot belum tahu apa latar belakang pemukulan itu, bagaimana peta masalahnya.
Maka yang kemudian dilakukan oleh Markesot yaitu memproses pemahaman atas duduk kasus yang tolong-menolong terjadi. Markesot mendatangi si pemukul untuk mulai penjajakan. Lelaki pemukul itu memanggil beberapa orang pelayan warung besar itu. Dan ketiganya tiba tanpa membantah, dengan wajah yang sama dengan wajah Ibu pemilik warung. Lelaki pemukul itu yaitu anggota keamanan “swasta” di wilayah itu. Lelaki yang dipukulnya yaitu Manajer yang membawahi para pekerja atau pelayan di warung itu. Dan si pemukul bertindak kepada Manajer itu demi menjawab keluhan para anak buah itu.
Manajer itu berlaku menyerupai Boss besar. Tidak berafiliasi dengan para pekerja dalam tata kelola yang baik. Ia sangat otoriter, kalimat-kalimatnya selalu bernafsu dan menyakitkan hati para pekerja. Situasi itu berakumulasi secara waktu hingga mereka tak dapat menahan diri lagi tetapi takut berbuat sesuatu kepada atasannya. Tak sengaja mereka mengeluh kepada si Preman ini, dan ternyata ditanggapi dengan tindakan tegas.
Markesot kemudian membawa lelaki pemukul itu serta beberapa pelayan menuju daerah si Manajer duduk, di bersahabat Ibu pemilik warung. “Rapat kilat” dilangsungkan, dan masing-masing berjanji untuk tidak melaksanakan apa-apa yang tidak seharusnya dilakukan. Serta bersumpah untuk melaksanakan hal-hal yang memang sewajibnya dilakukan. Semua bersepakat untuk memegang perjanjian itu di dalam tata administrasi dan etika pengelolaan warung, serta komunikasi antara semua pihak.
Mereka berangkulan dalam bulat dan berdoa bersama. Kemudian situasi normal kembali. Markesot kembali ke tikarnya dan menikmati makanan pesanannya meskipun sudah tidak hangat lagi. Makanan itu tidak terasa tak enak, lantaran ada yang lebih tak yummy di dalam pikiran hatinya.
Markesot tertawa cekikikan di dalam dirinya. Jauh-jauh hari Allah sudah wanti-wanti supaya insan waspada menilai siapa yang benar siapa yang salah. Pada konteks sejarah dan posisi duduk kasus tertentu, “diwajibkan atas kau berperang, padahal berperang itu yaitu sesuatu yang kau benci. Boleh jadi kau membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kau menyukai sesuatu, padahal ia amat jelek bagimu; Allah mengetahui, sedang kau tidak mengetahui”. [1] (Al-Baqarah: 216)
Informasi dari Allah ihwal hakikat hidup di firman itu sangat gamblang, sehingga kecerdikan setiap insan tidak memerlukan panduan, tafsir atau tadabbur untuk memahaminya. Sedangkan sepertinya kebanyakan sikap hidup dan keputusan peradaban kita membantah kalimat Tuhan itu, meskipun kebanyakan pelaku sejarah tidak mempunyai tata logika untuk tahu bahwa mereka membantah Tuhan.
Tetapi masuk akal juga lantaran di ujungnya Allah kasih tahu: “Allah mengetahui, sedang kau tidak mengetahui”. Markesot tertawa cekikikan. “Sungguh indah dan menggembirakan”, bisiknya kepada dirinya sendiri.
Kalau melihat letak titik lukanya dan merangkaikan dengan jenis gerakan dan posisi pemukulannya, sepertinya yang membikin luka yaitu “sikut” jari tengah atau minimal jari telunjuk, yang dipukulkan dengan posisi sangga genggaman yang tidak menyerupai genggaman tangan biasanya. Itu referensi pukulan dari suatu jenis bela diri tertentu.
Sambil tangannya memeluk lelaki itu, Markesot menoleh ke atas, ke arah lelaki yang memukulnya. Tidak omong apa-apa, tapi sorot mata dan sedikit gerak tangannya memberikan supaya jangan diteruskan, dan mohon tunggu sebentar. Lelaki pemukul itu mundur beberapa langkah. Markesot pelan-pelan mendudukkan si terkapar itu, kemudian diangkat berdiri, dituntun ke arah dapur warung untuk mencari air dan kain.
Tengah-tengah berjalan Markesot gres melihat bahwa pakaiannya belepotan darah, yang rupanya cukup deras mengalir, terutama ketika Markesot menjatuhkan diri menelungkupinya. Sesampai di dapur Markesot membasuh luka lelaki itu dan membersihkan sekitar wajah dan baju atasnya hingga bersih. Beberapa ketika kemudian gres si lelaki luka itu tiba-tiba setengah berteriak: “Ya Allah Pak Markesot… Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad…”
Markesot menuntunnya duduk di kursi. Minta kepada salah seorang pekerja warung itu untuk mengambilkan segelas air. Ibu pemilik warung itu dengan wajah setengah cemas setengah bangga berkata kepada Markesot: “Titip ya Pak, memang anak ini kurang baik perangainya…”. Markesot tentu saja belum paham apa maksud Ibu itu. Tapi ia harus segera beranjak mendatangi lelaki yang memukulnya tadi. Semua yang sedang makan di area luas warung itu melihatnya.
***
Sebenarnya keputusan Markesot untuk meloncat menelungkupi lelaki yang dipukul itu tadi merupakan keputusan yang kurang pintar dan membahayakan dirinya sendiri. Ia dapat terkena pukulan berikut dari lelaki si pemukul. Opsi lain yaitu Markesot bangun pasang tubuh menghadap lelaki pemukul. Ia secara frontal menyatakan pembelaannya kepada yang dipukul. Kemungkinan berikutnya yaitu lelaki pemukul sabung melawan Markesot. Karena Markesot dapat meletakkan diri membela yang tertindas dan melawan penindas.Tetapi itu tidak terjadi, lantaran Markesot lompat menelungkupi lelaki yang jatuh tertelentang lantaran dipukul. Tidak terjadi perlawanan terhadap si pemukul. Sangat dapat dimaklumi lantaran tiga sebab. Pertama, Markesot bukan seorang pemberani, tidak punya jiwa perlawanan terhadap kedhaliman. Kedua, Markesot tidak punya keahlian untuk berkelahi. Ketiga, Markesot belum tahu apa latar belakang pemukulan itu, bagaimana peta masalahnya.
Maka yang kemudian dilakukan oleh Markesot yaitu memproses pemahaman atas duduk kasus yang tolong-menolong terjadi. Markesot mendatangi si pemukul untuk mulai penjajakan. Lelaki pemukul itu memanggil beberapa orang pelayan warung besar itu. Dan ketiganya tiba tanpa membantah, dengan wajah yang sama dengan wajah Ibu pemilik warung. Lelaki pemukul itu yaitu anggota keamanan “swasta” di wilayah itu. Lelaki yang dipukulnya yaitu Manajer yang membawahi para pekerja atau pelayan di warung itu. Dan si pemukul bertindak kepada Manajer itu demi menjawab keluhan para anak buah itu.
Manajer itu berlaku menyerupai Boss besar. Tidak berafiliasi dengan para pekerja dalam tata kelola yang baik. Ia sangat otoriter, kalimat-kalimatnya selalu bernafsu dan menyakitkan hati para pekerja. Situasi itu berakumulasi secara waktu hingga mereka tak dapat menahan diri lagi tetapi takut berbuat sesuatu kepada atasannya. Tak sengaja mereka mengeluh kepada si Preman ini, dan ternyata ditanggapi dengan tindakan tegas.
Markesot kemudian membawa lelaki pemukul itu serta beberapa pelayan menuju daerah si Manajer duduk, di bersahabat Ibu pemilik warung. “Rapat kilat” dilangsungkan, dan masing-masing berjanji untuk tidak melaksanakan apa-apa yang tidak seharusnya dilakukan. Serta bersumpah untuk melaksanakan hal-hal yang memang sewajibnya dilakukan. Semua bersepakat untuk memegang perjanjian itu di dalam tata administrasi dan etika pengelolaan warung, serta komunikasi antara semua pihak.
Mereka berangkulan dalam bulat dan berdoa bersama. Kemudian situasi normal kembali. Markesot kembali ke tikarnya dan menikmati makanan pesanannya meskipun sudah tidak hangat lagi. Makanan itu tidak terasa tak enak, lantaran ada yang lebih tak yummy di dalam pikiran hatinya.
***
“Bagaimana hidup ini”, ia menggerundal kepada dirinya sendiri, “yang absolut dan bersikap kejam fasih mengucapkan Shalawat ketika saya peluk. Sementara pendekar kebenarannya yaitu kelas dan golongan yang orang-orang mengategorikannya sebagai Preman, Gali, Korak…”Markesot tertawa cekikikan di dalam dirinya. Jauh-jauh hari Allah sudah wanti-wanti supaya insan waspada menilai siapa yang benar siapa yang salah. Pada konteks sejarah dan posisi duduk kasus tertentu, “diwajibkan atas kau berperang, padahal berperang itu yaitu sesuatu yang kau benci. Boleh jadi kau membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kau menyukai sesuatu, padahal ia amat jelek bagimu; Allah mengetahui, sedang kau tidak mengetahui”. [1] (Al-Baqarah: 216)
Informasi dari Allah ihwal hakikat hidup di firman itu sangat gamblang, sehingga kecerdikan setiap insan tidak memerlukan panduan, tafsir atau tadabbur untuk memahaminya. Sedangkan sepertinya kebanyakan sikap hidup dan keputusan peradaban kita membantah kalimat Tuhan itu, meskipun kebanyakan pelaku sejarah tidak mempunyai tata logika untuk tahu bahwa mereka membantah Tuhan.
Tetapi masuk akal juga lantaran di ujungnya Allah kasih tahu: “Allah mengetahui, sedang kau tidak mengetahui”. Markesot tertawa cekikikan. “Sungguh indah dan menggembirakan”, bisiknya kepada dirinya sendiri.
Yogya, 21 November 2017
#Daur
https://www.caknun.com/2017/indah-dan-menggembirakan/