Acara diliput oleh salah satu stasiun televisi nasional yang saat itu paling unggul. Bersama KiaiKanjeng saya bertugas mengisi acara. Setelah beberapa usang saya bicara dan satu dua nomor musik dibunyikan, seseorang mendatangi saya memperlihatkan sobekan kertas yang isinya merupakan pemberitahuan supaya saya tidak berbicara politik dan sejumlah blablabla lainnya.
Ternyata ada Setan numpang di secarik kertas itu dan eksklusif merasuki saya. Mendadak muncul amarah di dada saya dan suhu panas di kepala saya. Mungkin alasannya ialah insiden dukungan peringatan itu tidak logis bagi saya. Kenapa Panitia mengundang orang yang mereka tidak percaya, sehingga perlu diberi peringatan? Saya bukan tukang makar. Saya tidak punya jiwa pemberontak. Tidak gagah berani melawan rezim. Mental saya pengecut untuk membenturkan diri saya kepada siapapun dan apapun.
Maka tangan kiri saya naik, jari telunjuk saya menuding ke arah putra Presiden: “He Bambang, nanti hingga rumah hitung kembali semua hartamu. Berapa persen yang halal, berapa persen yang haram dan berapa persen yang syubhat…”
Ruangan mendadak senyap. Anggota KiaiKanjeng berbisik dari belakang saya: “Cak, sudah, sudah tho. Itu anak Raja lho…”
Sebelum saya bereaksi, tiba-tiba terdengar bunyi pembawa program yang dibunyikan dari mikrofon di tempatnya: “Saudara-saudara, demikianlah tadi program telah kita langsungkan dengan alhamdulillah lancar…”
Saya gebrak meja. Setan benar-benar menguasai hati saya. “Diam!”, saya membentak, “Saya yang memulai, saya mengakhiri!”. Hampir saya teruskan menjadi improvisasi lagu dangdut: “Kau yang memulai, kamu yang mengakhiri…”. Untung masih tersisa kesadaran untuk membatalkannya.
Semua membisu dan tidak ada pergerakan apa-apa hingga paket KiaiKanjeng saya selesaikan. Ketika kami ke belakang panggung, ada tiga kali utusan, yakni ustadz-ustadz Gontor yang meminta saya untuk ke rumah Pak Kiai, makan bersama para tamu. Saya menjawab sangat kampungan: “Siapa saja yang butuh saya, ke sini”. Tiga utusan saya jawab sama. Sampai akibatnya saya kompromi: “Baik, saya bersama KiaiKanjeng akan ke daerah transit, lalu kami akan pulang, beberapa kendaraan kami akan berhenti di depan rumah Pak Kiai, dan hanya saya yang turun”.
Demikianlah yang kami lakukan. Konvoi kendaraan KiaiKanjeng berhenti tanpa mematikan mesin. Saya keluar, berjalan masuk ke rumah Pak Kiai, menyalami dia dan pamit akan pulang ke Yogya.
Saya eksklusif ngacir keluar rumah Pak Kiai, tanpa menoleh kepada satu orang pun. Kemudian kami melaju ke Ponorogo, mencari warung pecel.
Tiga hari lalu Bu Halimah menantu Presiden telepon saya. “Cak, tolonglah, semenjak pulang dari Gontor Mas Bambang tidak mau keluar kamar dan tidak mau omong sama sekali. Bolehkah saya memohon Cak Nun tiba ke Jakarta. Hanya Cak Nun yang dapat mengajak dia keluar kamar dan mengajak omong”.
Saya sungguh berterima kasih kepada diri saya sendiri alasannya ialah mau memenuhi undangan itu. Saya ke Jakarta. Mengetuk pintu kamar beliau. Kemudian mengobrol sedikit. Dan ternyata di ruangan lain sudah berkumpul sekian orang yang memimpin pengelolaan GN-Ota. Mas Bambang menyuruh mereka menandakan kepada saya apa saja yang mereka lakukan, dengan memperlihatkan lembar-lembar faktanya.
Pak Harto tidak murka anaknya saya tuding-tuding dengan tangan kiri di Gontor di depan khalayak. Karena Pak Harto sendiri yang menyuruh saya supaya mempermalukan anaknya. Setiap Bapak memerlukan anaknya dipermalukan. Setiap Presiden membutuhkan anggota keluarganya dituding-tuding oleh rakyatnya.
Kadipiro, 8 November 2017.