Di masa 1980-an transportasi ideal dan glamor yaitu Bus Malam. Yogya-Malang PP idolanya yaitu Bus Agung Anugerah. Kalau lintas provinsi Jatim-Jateng viralnya yaitu Bus Mila. Profesional, lajunya cepat tapi terukur, sopirnya canggih, duduk di kursinya serasa Bismillahirrohmanirrohim.
Tapi untuk memenuhi program Minggu Pagi di Masjid Raya Batu Malang, Mbah Sot kehabisan tiket Agung Anugerah. Terpaksa naik Bus umum dari Yogya sedapatnya. Subuh tiba di terminal Malang, shalat, numpang antre mandi, sarapan pecel, lalu naik angkot Malang-Batu. Semua serba manual. Belum ada Grab atau Go-Jek.
Kehidupan di zaman Markesot belum bau tanah waktu itu belum move on, masih jadul, go-blog dan go-mbal. Ke mana-mana wajah masih go-song, mental go-cik, tidak gagah perkasa, tangguh berani dan sakti mandraguna ibarat generasi sekarang. Dulu “old” kini “now”. Dulu “go” kini “guw”.
Paling lambat 15 menit sebelum acara, Mbah Sot harus hingga di bersahabat lokasi. Al-barnamiju ‘ala waqtiha. Program dilaksanakan sempurna pada waktunya. Mbah Sot sembunyi di warung kecil. Ngopi sambil melihat Masjid dari kejauhan. Tapi jam 09.00, jam program Mbah Sot diundang, belum tampak ada kegiatan apa-apa di Masjid. Mbah Sot tunggu hingga 30 menit, satu jam, kompromi hingga 1,5 jam. Akhirnya alasannya tidak ada gejala akan ada acara, Mbah Sot pun berjalan mencari angkot untuk balik ke Malang, lalu Yogya.
Ternyata tertangkap lembap oleh beberapa Panitia, yang entah sembunyi di mana. Mbah Sot dipindah ke kendaraan mereka, diajak ke Warung Jawa Timur, dan dikasih tahu bahwa “demi menjaga hubungan baik dengan Pemerintah, program pengajian dibatalkan, alasannya Polres dan Kodim melarangnya”. Mbah Sot sempat merespons: “Awakmu bukan menjaga hubungan baik, Rèk, tapi berafiliasi melestarikan hubungan buruk”. Tapi Mbah Sot tidak marah. Bahkan bersyukur.
Tidak ada kenikmatan melebihi posisi Mbah Sot pagi itu. Sudah mendapat pahala alasannya memenuhi kesepakatan acara, sudah berjihad naik Bus semalaman hingga mandi di terminal, sudah bederma saleh mendekat ke Masjid dan siap program — dan mendadak merdeka dan tak harus repot-repot bicara di podium Masjid, tapi sudah mendapat pahala dari niat dan bukti tanggung jawabnya. Malah tambah makan lezat di warung maknyus, keuntungan perenungan dengan pemuda-pemuda impian bangsa.
Pakde Tarmihim dulu awalnya tidak benar-benar memahami cara berpikir Markesot. Normalnya orang yang diundang jauh-jauh dan sudah memenuhinya dengan naik Bus semalaman, tiba sendiri ke daerah program tanpa jemputan, lantas ternyata acaranya batal tanpa pemberitahuan sebelumnya: murka besar dong. Bahkan kalau di dunia profesional, ia berhak mendapat ganti rugi.
Hal ibarat itu dialami Markesot tidak hanya sepuluh dua puluh kali. Ditambah lagi Markesot ternyata belum tentu mendapat apa-apa, penghargaan, uang transport, buah tangan ketela atau pisang, setelah memenuhi janjinya. Pantas Markesot tidak pernah meningkat hidupnya. Kariernya tidak berkembang. Juga tetap miskin, tidak terkenal, tidak jadi apa-apa.
Tetapi Markesot ibarat tidak mengalami apa-apa. Senyum-senyum saja. Malahan bersyukur. Anak-anak muda yang mengecewakannya itu tetap disayanginya, tidak berubah sedikit pun dari sebelumnya. Ketika Tarmihim mencoba bertanya, Markesot menjawab: “Mengapa Allah akan menyiksamu, kalau kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah yaitu Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui”. [1] (An-Nisa: 147)
O, jadi maksud Markesot, kalau bersyukur, bubarlah kemungkinan penyiksaan dari Allah.
Tapi untuk memenuhi program Minggu Pagi di Masjid Raya Batu Malang, Mbah Sot kehabisan tiket Agung Anugerah. Terpaksa naik Bus umum dari Yogya sedapatnya. Subuh tiba di terminal Malang, shalat, numpang antre mandi, sarapan pecel, lalu naik angkot Malang-Batu. Semua serba manual. Belum ada Grab atau Go-Jek.
Kehidupan di zaman Markesot belum bau tanah waktu itu belum move on, masih jadul, go-blog dan go-mbal. Ke mana-mana wajah masih go-song, mental go-cik, tidak gagah perkasa, tangguh berani dan sakti mandraguna ibarat generasi sekarang. Dulu “old” kini “now”. Dulu “go” kini “guw”.
Paling lambat 15 menit sebelum acara, Mbah Sot harus hingga di bersahabat lokasi. Al-barnamiju ‘ala waqtiha. Program dilaksanakan sempurna pada waktunya. Mbah Sot sembunyi di warung kecil. Ngopi sambil melihat Masjid dari kejauhan. Tapi jam 09.00, jam program Mbah Sot diundang, belum tampak ada kegiatan apa-apa di Masjid. Mbah Sot tunggu hingga 30 menit, satu jam, kompromi hingga 1,5 jam. Akhirnya alasannya tidak ada gejala akan ada acara, Mbah Sot pun berjalan mencari angkot untuk balik ke Malang, lalu Yogya.
Ternyata tertangkap lembap oleh beberapa Panitia, yang entah sembunyi di mana. Mbah Sot dipindah ke kendaraan mereka, diajak ke Warung Jawa Timur, dan dikasih tahu bahwa “demi menjaga hubungan baik dengan Pemerintah, program pengajian dibatalkan, alasannya Polres dan Kodim melarangnya”. Mbah Sot sempat merespons: “Awakmu bukan menjaga hubungan baik, Rèk, tapi berafiliasi melestarikan hubungan buruk”. Tapi Mbah Sot tidak marah. Bahkan bersyukur.
Tidak ada kenikmatan melebihi posisi Mbah Sot pagi itu. Sudah mendapat pahala alasannya memenuhi kesepakatan acara, sudah berjihad naik Bus semalaman hingga mandi di terminal, sudah bederma saleh mendekat ke Masjid dan siap program — dan mendadak merdeka dan tak harus repot-repot bicara di podium Masjid, tapi sudah mendapat pahala dari niat dan bukti tanggung jawabnya. Malah tambah makan lezat di warung maknyus, keuntungan perenungan dengan pemuda-pemuda impian bangsa.
Pakde Tarmihim dulu awalnya tidak benar-benar memahami cara berpikir Markesot. Normalnya orang yang diundang jauh-jauh dan sudah memenuhinya dengan naik Bus semalaman, tiba sendiri ke daerah program tanpa jemputan, lantas ternyata acaranya batal tanpa pemberitahuan sebelumnya: murka besar dong. Bahkan kalau di dunia profesional, ia berhak mendapat ganti rugi.
Hal ibarat itu dialami Markesot tidak hanya sepuluh dua puluh kali. Ditambah lagi Markesot ternyata belum tentu mendapat apa-apa, penghargaan, uang transport, buah tangan ketela atau pisang, setelah memenuhi janjinya. Pantas Markesot tidak pernah meningkat hidupnya. Kariernya tidak berkembang. Juga tetap miskin, tidak terkenal, tidak jadi apa-apa.
Tetapi Markesot ibarat tidak mengalami apa-apa. Senyum-senyum saja. Malahan bersyukur. Anak-anak muda yang mengecewakannya itu tetap disayanginya, tidak berubah sedikit pun dari sebelumnya. Ketika Tarmihim mencoba bertanya, Markesot menjawab: “Mengapa Allah akan menyiksamu, kalau kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah yaitu Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui”. [1] (An-Nisa: 147)
O, jadi maksud Markesot, kalau bersyukur, bubarlah kemungkinan penyiksaan dari Allah.
Sidoarjo, 13 November 2017