Andaikan Markesot dikenal oleh Setya Novanto dan ditanya perihal keadaannya hari-hari ini, mestinya Markesot menjawab begini: “Etembang potèh mata, ango`an potèh tolang, ta`iye!“. Daripada mata tinggal putihnya lantaran aib dan terhina, lebih baik mati tubuh tercabik-cabik tinggal tulang putih”.
“Apa yang kamu mau pertahankan lagi? Kau banting sendiri martabat dan harga dirimu, dan sekarang semua orang sekampung menginjak-injakmu? Kau menelanjangi dirimu sendiri bulat-bulat di spotlight panggung nasional dan dunia. Kau hancurkan sendiri eksistensi dan reputasimu, dan burung-burung pemakan bangkai mencabik-cabik nasibmu, mencucupi dan mereguk darahmu. Kepalang, Setnov. Daripada hidup bercermin bangkai, lebih baik mati berkalang tanah…”
Memang Setnov sedang berhadapan dengan tiga kekuatan. Pertama, Tuhan yang membuat dan menghidupkannya. Kedua, KPK dan sistem aturan Negara. Ketiga, suara-suara dari kegelapan yang melemparinya ancaman-ancaman terhadap keselamatan nyawanya, nyawa anak istri dan keluarganya. Pastilah yang terakhir itu yang paling mengerikan baginya.
Tapi tidak mungkin Markesot orang bawah kenal dengan KH (HC) Setya Novanto yang levelnya nun di atas. Tapi mungkin Anda mengenalnya, dan mungkin berkenan memberi ucapan selamat kepadanya. Lantas mungkin ada yang bertanya “Kok kasih ucapan selamat kepada orang yang ditangkap dan akan mau masuk bui?”. Atau ada yang menambahkan “maling kok disebut sedang berjuang menegakkan kebenaran?”.
Maling kan posisi insan dikala mencuri. Pulang ke rumah ia Bapak dan Suami yang sayang bawah umur dan istri. Sesudah itu ia pergi ke manapun memanggul utang kepada kehidupan, atas dasar pencuriannya. Selama ia belum membayar utang, ia masih berposisi salah dan minus. Begitu ditangkap, diproses aturan kemudian dipenjarakan: ia menjalani kebenaran menuju titik Nol.
Salah + dieksekusi = benar. Salah + tidak dieksekusi = salah kuadrat. Orang yang tinggal di penjara yaitu para pejuang dan penuntas kebenaran. Ia benar-benar harus berjuang dengan ketahanan dan kesabaran, alasannya yaitu posisinya minus (-). Nanti begitu masa hukumannya habis, posisinya Nol kembali.
Manusia itu 0, seakan-akan ada. Hanya Allah yang 1, yang sejati ada. Baqa`. Allah Ahad. Tunggal.
Ketuhanan Yang Maha Tunggal. Sedangkan insan itu Fana, sejatinya tiada. Kemesraan cinta antara Allah dengan insan yaitu aransemen 01010101 Dunia Maya hingga tak terhingga: semua penghuni Bumi sekarang sedang menikmati kemesraan itu melalui gelembung IT, cumbu rayu animasi dan persilangan hologram antara ada dan tiada.
“Engkau tidak sendirian berkubang kedhaliman. Kau hanya bab menonjol dari orkestra-orkestra besar maupun kecil, dan engkau bukan pemetik gitar tunggal. Korupsi di Negerimu yaitu sebuah sistem besar, habitat yang akut, budaya yang mendalam hingga ke cara berpikir serta naluri perilaku. Mungkin juga bandit besar yang sistemik-strategis. Bahkan mungkin sudah mulai sanggup disebut peradaban…”
KPK mestinya tahu persis berapa jumlah Setnov di tumpukan map-mapnya. Juga tidak mungkin tidak tahu berapa jumlah dan siapa saja anggota Orkestra Setnov. Ia berposisi strategis untuk mungkin menjadi “pahlawan”, dengan usaha mendorong pengembangan dari “Pengadilan gitar tunggal” menjadi “Pengadilan Orkestra”. Tetapi sebagaimana sejumlah terhukum korupsi sebelumnya, Setnov mungkin tak punya daya untuk melewati jembatan “Jer basuki mowo beo”: usaha meminta ongkos pengorbanan. Mahalnya “mowo beo” yang ditimpakan mungkin takkan tertanggungkan olehnya. Sampai-sampai tiang listrik, suntik infus kanak-kanak serta jidat dan bakpao ia libatkan.
Semua orang sedang nobar untuk tahu apakah Setnov yaitu Superman ataukah Supermie.
Padahal jikalau urusannya “hanya” dengan Allah, jalan dilapangkan oleh-Nya juga: “Orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, kemudian memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang sanggup mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu kesudahannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan nirwana yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka infinit di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal”. [1] (Ali ‘Imran: 135-136)
Kalau “mowo beo” itu dieksekusikan, keluarganya ditunggu oleh Malaikat Ridlwan dan para Mujahidin serta Syahidin di sorga, dan ia sendiri punya kemungkinan yang sama. Karena berani menguakkan kebenaran dalam kehidupan di dunia. Qulil haqqa walau kana murran. Ungkapkan kebenaran, meskipun pahit. Atau bahkan jauh lebih dari sekadar pahit.
“Apa yang kamu mau pertahankan lagi? Kau banting sendiri martabat dan harga dirimu, dan sekarang semua orang sekampung menginjak-injakmu? Kau menelanjangi dirimu sendiri bulat-bulat di spotlight panggung nasional dan dunia. Kau hancurkan sendiri eksistensi dan reputasimu, dan burung-burung pemakan bangkai mencabik-cabik nasibmu, mencucupi dan mereguk darahmu. Kepalang, Setnov. Daripada hidup bercermin bangkai, lebih baik mati berkalang tanah…”
Memang Setnov sedang berhadapan dengan tiga kekuatan. Pertama, Tuhan yang membuat dan menghidupkannya. Kedua, KPK dan sistem aturan Negara. Ketiga, suara-suara dari kegelapan yang melemparinya ancaman-ancaman terhadap keselamatan nyawanya, nyawa anak istri dan keluarganya. Pastilah yang terakhir itu yang paling mengerikan baginya.
***
Kalau ada yang ditangkap oleh petugas aturan lantaran korupsi, atau pelanggaran aturan apapun, yang kebetulan kenal dan punya nomor HP-nya —kirimlah ucapan selamat melalui SMS atau WA atau BBM: “Selamat ya, Anda sedang berjuang menegakkan kebenaran. Semoga berkah Allah menaburi Anda sekeluarga”.Tapi tidak mungkin Markesot orang bawah kenal dengan KH (HC) Setya Novanto yang levelnya nun di atas. Tapi mungkin Anda mengenalnya, dan mungkin berkenan memberi ucapan selamat kepadanya. Lantas mungkin ada yang bertanya “Kok kasih ucapan selamat kepada orang yang ditangkap dan akan mau masuk bui?”. Atau ada yang menambahkan “maling kok disebut sedang berjuang menegakkan kebenaran?”.
Maling kan posisi insan dikala mencuri. Pulang ke rumah ia Bapak dan Suami yang sayang bawah umur dan istri. Sesudah itu ia pergi ke manapun memanggul utang kepada kehidupan, atas dasar pencuriannya. Selama ia belum membayar utang, ia masih berposisi salah dan minus. Begitu ditangkap, diproses aturan kemudian dipenjarakan: ia menjalani kebenaran menuju titik Nol.
Salah + dieksekusi = benar. Salah + tidak dieksekusi = salah kuadrat. Orang yang tinggal di penjara yaitu para pejuang dan penuntas kebenaran. Ia benar-benar harus berjuang dengan ketahanan dan kesabaran, alasannya yaitu posisinya minus (-). Nanti begitu masa hukumannya habis, posisinya Nol kembali.
Manusia itu 0, seakan-akan ada. Hanya Allah yang 1, yang sejati ada. Baqa`. Allah Ahad. Tunggal.
Ketuhanan Yang Maha Tunggal. Sedangkan insan itu Fana, sejatinya tiada. Kemesraan cinta antara Allah dengan insan yaitu aransemen 01010101 Dunia Maya hingga tak terhingga: semua penghuni Bumi sekarang sedang menikmati kemesraan itu melalui gelembung IT, cumbu rayu animasi dan persilangan hologram antara ada dan tiada.
***
Akan tetapi Setnov sekarang “sangat ada” lantaran wajahnya sangat muncul di titik minus-sekian. Kalau yang dihadapinya sekadar KPK dan aturan Negara, tidak pelik: “Songsonglah badai. Terjun masuk ke kawah api. Dengan dada terbuka dan wajah tegak, tampillah duduk gagah di bangku pengadilan. Buka blak-blakan semua yang selama ini disembunyikan, sebut semua nama-nama itu, yang seharusnya menemanimu di sel-sel penjara”.“Engkau tidak sendirian berkubang kedhaliman. Kau hanya bab menonjol dari orkestra-orkestra besar maupun kecil, dan engkau bukan pemetik gitar tunggal. Korupsi di Negerimu yaitu sebuah sistem besar, habitat yang akut, budaya yang mendalam hingga ke cara berpikir serta naluri perilaku. Mungkin juga bandit besar yang sistemik-strategis. Bahkan mungkin sudah mulai sanggup disebut peradaban…”
KPK mestinya tahu persis berapa jumlah Setnov di tumpukan map-mapnya. Juga tidak mungkin tidak tahu berapa jumlah dan siapa saja anggota Orkestra Setnov. Ia berposisi strategis untuk mungkin menjadi “pahlawan”, dengan usaha mendorong pengembangan dari “Pengadilan gitar tunggal” menjadi “Pengadilan Orkestra”. Tetapi sebagaimana sejumlah terhukum korupsi sebelumnya, Setnov mungkin tak punya daya untuk melewati jembatan “Jer basuki mowo beo”: usaha meminta ongkos pengorbanan. Mahalnya “mowo beo” yang ditimpakan mungkin takkan tertanggungkan olehnya. Sampai-sampai tiang listrik, suntik infus kanak-kanak serta jidat dan bakpao ia libatkan.
Semua orang sedang nobar untuk tahu apakah Setnov yaitu Superman ataukah Supermie.
Padahal jikalau urusannya “hanya” dengan Allah, jalan dilapangkan oleh-Nya juga: “Orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, kemudian memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang sanggup mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu kesudahannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan nirwana yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka infinit di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal”. [1] (Ali ‘Imran: 135-136)
Kalau “mowo beo” itu dieksekusikan, keluarganya ditunggu oleh Malaikat Ridlwan dan para Mujahidin serta Syahidin di sorga, dan ia sendiri punya kemungkinan yang sama. Karena berani menguakkan kebenaran dalam kehidupan di dunia. Qulil haqqa walau kana murran. Ungkapkan kebenaran, meskipun pahit. Atau bahkan jauh lebih dari sekadar pahit.
Yogya, 20 November 2017