Maiyah melihat bahwa sangat bersahabat waktu di depan hidungnya: bangsa Indonesia sedang ditimpa ancaman besar yang mengancam eksistensinya, martabat dan keamanan tanah airnya. Sementara Ummat Islam sedang mengalami kontradiksi yang sangat fundamental dan serius di antara mereka, meskipun keduanya tidak merasa apa-apa dan tidak menyadari bagaimana-bagaimana.
Maiyah tidak berada pada posisi manapun dalam kontradiksi itu, meskipun dapat ditimpa akibat-akibat pribadi maupun tak langsung, di masa sekarang dan masa-masa berikutnya, oleh ancaman dan ancaman itu.
Di dalam dirinya Maiyah membangun jiwa pendamai, perekat dan pemersatu. Tetapi beliau berada di tengah bangsa dan ummat yang secara permanen memelihara dan memantapi permusuhan, secara sadar menolak kerekatan, dan tidak pernah terlihat melaksanakan sesuatu menuju ukhuwah, persatuan dan penyatuan.
Maiyah menyerupai berkunjung ke Rumah Sakit, duduk di tepi ranjang pasien yang semakin parah sakitnya. Namun Maiyah mustahil mengemukakan hal-hal perihal sakit dan penyakit kepada pasien yang sedang terbaring sakit.
Sedangkan Rumah Sakit itu tidak ada Dokternya. Si Pasien juga tidak pernah bertanya perihal obat dan Dokter, kepada siapapun, apalagi mempercayakan jawabannya kepada Maiyah. Maka kiprah Maiyah tinggal dua.
Pertama, mengkreatifi mataair Maiyah untuk kebahagiaan hidup para pelakunya. Kedua, kepada yang di luar mataair dan kebunnya, Maiyah bersedih dan membisu.
Mataair Maiyah 7,
Kadipiro, November 2017
Kadipiro, November 2017
#Tajuk
https://www.caknun.com/2017/bersedih-dan-bisu/