ADS

‘Ilmun La Yanfa’ (Untuk Anak Cucu Maiyahku, 1)

Meskipun Maiyah yaitu mataair yang dicurahkan dari langit ke suatu titik di tanah Indonesia, tetapi ia diperuntukkan hanya bagi hamba-hamba yang dikehendaki-Nya. Mungkin itu yang disebut gelombang amr dan irodah Maha Ruh sumber mataair itu, pada garis syafaat kekasih-Nya Muhammad saw.

Mataair itu dipancarkan untuk Al-Muhtadin, hamba-hamba yang dihidayahi oleh Allah. Mereka lalu berhimpun menjadi Al-Mutahabbina Fillah, hamba-hamba yang saling mengasihi semata-mata sebab Allah. Bersaudara tidak sebab hubungan darah, kesamaan golongan, madzhab, atau sebab motivasi kekuasaan dan transaksi keduniaan.

Mereka bersaudara dan merawat persaudaraan fid-dunya wal-akhirah, kholidina fiha abada, dalam keadaan berdiri, duduk atau berbaring. Dalam fasilitas atau kesulitan, kemiskinan atau kekayaan, kesedihan atau kegembiraan, dalam kepungan kegelapan atau limpahan cahaya. Mereka mengalir dalam getaran bersama. Mereka bergetar di ajaran yang sama.

Para pereguk Mataair Maiyah diantarkan dan dihimpun memasuki suatu jagat kejiwaan di mana mereka mengalami kenikmatan bertauhid, ketakjuban ber-Islam, kesejukan silaturahmi, kemurnian ukhuwah, keseimbangan mental, kejernihan olah akal, keadilan berpikir, ketenteraman hati, kebijaksanaan bersikap — serta secara keseluruhan semacam keterbimbingan hidup.

Tetapi Allah menguji mereka: Seperti ada tangan besar yang menarik mereka ke jalan sunyi, yang menciptakan mereka terasing, berbeda bahkan bertentangan dengan dunia dan Indonesia.

Air yang mereka tadahi dari Mataair Maiyah mungkin sekadar dijadikan minuman untuk kesejukan di tenggorokan hidup bersama keluarga. Untuk peluasan dan pendalaman ilmu kehidupan. Untuk racikan gres kesehatan dan pengobatan. Untuk meningkatkan kualitas Ziro’ah, eksplorasi kreativitas Shina’ah dan respons terhadap perubahan tata penghidupan Tijaroh. Atau dapat juga untuk penghimpunan energi zaman melawan kedhaliman nasional dan global. Bahkan lebih menyeluruh, bulat, kaffah sekaligus detail dan ‘serbuk’.

Tetapi skala mereka sebatas “wala tansa nashibaka minad-dunya”. Tumpuan mereka yaitu “innalloha ‘ala kulli syai`in qodir”. Koridor ilmu mereka yaitu kesadaran bahwa pelaku utama perubahan yaitu Allah sendiri. Serta takkan mereka lukai atau retakkan nikmat Allah berupa perkenan Al-Muhtadin dan ikhtiar Al-Mutahabbina Fillah.

Pun jangan lupa: Mataair Maiyah dapat tidak berkhasiat apapun. Orang tiba ke Mataair Maiyah sekadar untuk memetik laba bagi dirinya sendiri. Maiyah dapat tidak pernah menjadi apa-apa. Menguap ke kekosongan zaman. Sirna dari lembaran buku sejarah dan kehidupan. Menjadi hamparan kerakal-kerikil diinjak-injak oleh gajah Abrahah. Bisa sebab kemalasan mental, kesemberonoan ilmu, kejumudan spiritual, atau ketidakberdayaan memanggul berkah. Maiyah menjadi ‘ilmun la yanfa’. Ilmu yang tidak bermanfaat.

Mataair Maiyah 1-4,
Kadipiro, November 2017
#Tajuk
https://www.caknun.com/2017/ilmun-la-yanfa/


Subscribe to receive free email updates:

ADS