ADS

Berkah Dilempar Sendal


Seperti dilempar sendal muka saya. Sebagaimana janji-Nya ‘allamal insana ma lam ya’lam – Ia mengajari yang insan belum tahu. “Pancer” kami menyuruh saya berhenti menulis Pancasila. Jangan GR seakan-akan itu tema penting bagi Indonesia. Jangan salah sangka terhadap pekikan-pekikan Pancasila. Maka Seri Pancasila hingga 17, stop di 14. Alhamdulillah seri-14 goresan pena saya berjudul “Pancasila Setengah Hati”.

Para sobat ikut nimbrung: “Saya memang menemukan semacam kecenderungan serius bahwa orang ditimpa kemalasan terhadap Pancasila. Begitu di judul ada kata Pancasila, pribadi “pindah channel”. Kecuali bagi yang mau jualan Pancasila untuk goal politiknya.”

Bersahutan-sahutanlah ketiga sobat itu: “Kita hanya melihat kulit, terus menyimpulkan isi. Kita terpesona penampilan, terus menyembah. Atau fobi simbol-simbol, terus muntah. Kita bertengkar sedunia lantaran tampilan, institusi, nama, ikon, display, judul, papan nama dan topeng-topeng. Disangka bila Seri Pancasila berarti fokusnya Pancasila. Disangka sakit kepala sumbernya di kepala. Disangka bila mata menangis, mata yang kesakitan. Alangkah tidak berkembangnya budi manusia.”

“Disangka bila judul di Qur`an ‘Sapi Betina’, Tuhan sedang menjelaskan hal-hal ihwal lembu. Disangka untuk mempelajari sejarah Nabi Adam, dapat dilihat di Surat Adam. Tuhan mengisahkan Nabi Musa paling banyak di Qur`an tapi tak ada Bab atau Surat Musa. Alangkah kurang berpengalamannya manusia. Tak ngerti pukul bumi untuk paham langit, dan lempar langit untuk memahami bumi.”

“Masa Penggelapan semenjak Abad 14 sukses menciptakan insan sedunia otaknya berisi kotak-kotak padat kaku dan lajur-lajur linier. Orang berpikir parsial, semua sarjana hanya fakultatif, dulu sumbu pendek, kini banyak insan tanpa sumbu. Dipikir saya omong ihwal Pancasila, mentang-mentang ada saya sebut Pancasila. Dipikir saya butuh Pancasila dalam sedekah keIndonesiaan saya. Dipikir saya dapat terikat dan tertawan oleh selain Tuhan, kekasih-Nya dan almarhumah saya dan satu dua belakang layar Allah lainnya.”

Saya terpojok oleh lemparan sendal-sendal itu. Maka kupakai jari-jariku untuk mengetik Pancasila, yang ini untuk terakhir kalinya. Sampai terjadi nanti rombongan lembu tidur di hotel berbintang, kerbau berlomba masuk lobang jarum, serta turnamen SEA Games kura-kura terbang. Saya akan tulis ihwal ‘Tuhan’, semoga disangka Tuhan. Dan saya tulis Tuhan, supaya disangka ‘Tuhan’.

Saya bahagia lantaran kini makin luas kemerdekaan saya. Lemparan sendal jadi berkah. Saya jadi teringat ada seorang Kepala Daerah dilempar sendal oleh salah seorang hadirin. Sendal jatuh sempurna di depan ia yang sedang duduk bersila sebelah kanan saya di panggung. Ada kemungkinan tolong-menolong yang dilempar ialah saya, cuma arahnya meleset ke Pak Kepda. Mungkin saya atau Pak Kepda dinilai kurang adil dan beradab, kurang bermusyawarah dan kurang mewakili aspirasi rakyat. Kurang Pancasilais-lah.

Ketika pegawanegeri Keamanan, para Polisi dan tim Panitia, mencari-cari siapa persisnya yang melempar sendal, tiba-tiba melayang sendal satu lagi. Jatuh lebih akrab ke Pak Kepda. Dari pinggiran area ribuan hadirin, para petugas keamanan bergerak meringsek ke arah pelempar sendal. Tapi keduluan oleh pasukan dari panggung. Kiai Kanjeng yang duduk di belakang saya berloncatan ke depan turun panggung, pribadi menuju pelempar sendal, mengepungnya, kemudian dua orang menangkapnya dan membawanya minggir, masuk ke satu ruangan Sekretariat Panitia.
Yang dilakukan Kiai Kanjeng ialah melindungi pelempar sendal dari pegawanegeri keamanan. Kawatir bila pribadi dihajar, meskipun saya yakin tak akan hingga dibakar hidup-hidup. Salah seorang dari Kiai Kanjeng mengawal proses identifikasi, penyidikan awal, semoga diketahui segala sesuatu yang menciptakan sendal melayang. Prosedur penanganan aturan dilaksanakan sebaik-baiknya, sesantun dan semanusiawi mungkin.

Acara di lapangan terus berlangsung. Tidak boleh ada vacuum. Saya ambil mikrofon
lagi: “Belum pernah saya duduk bersama seorang Kepala Daerah yang sedemikian tinggi
derajatnya lantaran disayang oleh Allah. Yang diharapkan oleh setiap pemimpin adalah
pengetahuan ihwal isi hati rakyatnya. Dan ia barusan dikasyafi oleh Allah, di-jahr-
kan, dimanifestasikan secara aktual ‘sirr’ belakang layar hati rakyat yang biasanya selalu disimpan.
Saya mohon semua hadirin dan Pak Kepda bersyukur dan bertepuk tangan gembira…”

Ada Kepala Daerah, Gubernur, Bupati, Presiden dan banyak sekali maqam dan jenis pemimpin yang dibimbing oleh Tuhan. Ada yang diizinkan memimpin tapi tidak dibimbing, lantaran minta izin tapi tidak minta bimbingan. Ada yang tidak tidak minta izin dan tidak minta bimbingan, tapi Tuhan membiarkannya memimpin. Ada yang tidak dihalangi oleh Tuhan untuk memimpin, tapi juga tidak dilindungi. Ada yang malah didorong Tuhan untuk memimpin, dalam rangka dibombong dan disesatkan. Yang dibombong dan disesatkan bukan hanya si pemimpin, tapi juga rakyatnya.

Semua ada latar belakangnya, ada alasannya ialah dan pertimbangan-Nya. Saya tidak wajib menunjukan soal itu di sini, lantaran demokrasi dan proses pemilihan pemimpin yang kita jalani juga belum pernah benar-benar memperlakukan Tuhan sebagai subyek primer dari prosedur bernegara. Tuhan hanya dikasih jabatan “Kepala Biro Pengabulan Doa” pas dibutuhkan. Tuhan itu Maha Outsourcing dengan masa kerja sesuai dengan kepentingan politik “atasan-atasan”Nya.

Ada orang yang dijaga ketat oleh Tuhan semoga kelak selamat di hadapan-Nya. Mau berbuat jelek sedikit saja pribadi diingatkan: lidahnya tergigit oleh giginya, motornya ngadat, mobilnya menabrak kucing, lingkar matanya kedutan, kendaraan mogok supaya telat naik pesawat yang akan mengalami kecelakaan, nagih hutang dibayar hanya 10% lantaran pulang dari nagih ia akan dirampok di jalan, dihalangi naik jabatan lantaran jangka panjangnya nanti akan sangat celaka. Dan macam-macam lagi cara Tuhan melindungi. Bisa kecil dapat besar, dapat remeh dapat serem. Semau-mau Tuhan.

Ada pemimpin yang berbuat salah separah apapun tidak membuatnya melorot dari kursinya, atau dilempar sandal mukanya oleh rakyat. Ratusan janjinya dikala kampanye diingkari setelah menjabat, tidak menciptakan kepemimpinannya dibatalkan oleh rakyatnya. Segala yang jelek darinya tampak baik di mata rakyatnya, segala yang busuk tercium wangi oleh hidung rakyatnya. Langkah apapun yang blunder, Tuhan membantunya memberi alasan-alasan yang merubah kekecewaan rakyat menjadi pujian dan pembelaan.

Begitulah. Tulisan ini ada sambungannya. Pasti. Karena tidak ada apapun di alam dan kehidupan insan yang tak bersambung satu sama lain. Itu kesepakatan dan logika managerial Tauhid. Tetapi goresan pena ini tidak saya bikin bersambung. Karena ummat insan di dunia dan Bangsa Indonesia sudah sangat lelah oleh kegagalan untuk bersambung satu sama lain. Persatuan dan kesatuan kita ialah “tahsabuhum jami’an wa qulubuhum syatta”. Kelihatannya menyatu, padahal hatinya terpecah-pecah terkeping-keping.

Yogya, 5 September 2017.
Emha Ainun Nadjib
#Khasanah

https://www.caknun.com/2017/berkah-dilempar-sendal/

Subscribe to receive free email updates:

ADS