ADS

Gudèl Ngeloni Kebo (Yuwaswisu Fi Shudurinnas)



Bertubi-tubi sejumlah pembaca bertanya: “Kok goresan pena Sampeyan mubeng-munyer, berputar-putar dan bertele-tele?”
   
“Saya menyesuaikan karakter dan irama”, saya menjawab seperlunya, “apa yang tidak mubeng-munyer di Negeri ini. Indonesia maupun Yogya. Yang mana yang tidak berputar-putar dan bertele-tele”

“Nulis yang efektif dong, menuju sasaran”, saya dikejar lewat Japri.

“Aku menikmati istidraj”, sekenanya kujawab, “Treatment Tuhan ke insan kan ada empat”

“Apa saja empat itu?”

“Pertama, hidayah, bersikap normal, ngasih tahu baik-baik. Kalau benar dijunjung. Kalau baik dibalas kebaikan berlipat. Kalau bijaksana ditinggikan derajatnya. Kalau mulia disempurnakan pangkat rohaninya”

“Lantas?”

“Kemudian istidraj. Mbombong. Menyorong searah dengan tanda-tanda sikap manusia. Ana ‘inda dhonni ‘abdi bii. Aku berlaku sesuai dengan prasangka insan atas-Ku. Kalau insan muter-muter, ya Kuputer-puter. Kalau insan meniupkan kabut, ya Kutambahi kabut. Kalau insan menyamar-nyamarkan, ya Kutambahi lebih samar…”

“Waduh kok gitu…”

“Kalau insan tidak memakai patrap dan proporsi, ya Kutambahi nir-patrap dan disproporsi.

“Masak Tuhan bersikap begitu?”

“Pelajari saja perilaku-Nya”

“Gimana cara mempelajari sikap Tuhan?”

“Teliti hidupmu dan kehidupan sebanyak mungkin orang. Pakai Ilmu Titèn, di area sosial, budaya, terutama politik. Kemudian himpun dan bikin skema wacana pernyataan Tuhan sendiri. Teliti tanda-tanda dan kecenderungan sikap-sikap-Nya”

“Ada buku kepustakaannya?”

“Cari Kitab Suci yang Tuhan sendiri menjamin orisinalitasnya. Yang tidak ada peluang untuk mengubahnya, untuk merevisi atau mengamandemennya. Karena jutaan orang hapal luar kepala. Kalau ada satu aksara diubah, tidak hanya dikontrol secara akademis tekstual, tapi juga eksklusif tidak yummy rasanya. Ada kontrol estetika, kenyamanan dan ketidaknyamanan artistik. Ada kewaspadaan nuansa. Setiap ayat dan aksara di Kitab Suci itu kompatibel, menyatu, nyawiji, matching, dengan anutan darah, detak jantung dan metabolisme jasad maupun rohani manusia. Ada ganjalan, perubahan atau keganjilan se-zarrah saja, eksklusif naluri insan merasakannya dan memberontak”

“Emang bisa dan bener begitu?”

“Tidak ada tanggapan kecuali engkau memasukinya, menyelam, berenang-renang, ridla kepada setiap tetesan airnya, mensyukuri dan menikmatinya. Kalau kamu menolaknya, akan jadi daging tumbuh yang membuatmu tersiksa sendiri”

“Ada tanggapan di situ atas semua pertanyaan saya?”

“Tidak ada satu pun tanggapan atas ketidaktulusan hatimu, ketidakmurnian pikiranmu dan ketidaksucian niat di lubuk kedalaman jiwamu”

“Wah kok filosofis banget…”

“Manusia tidak disebut pohon atau kambing alasannya ia punya filosofi. Kalau alam, ia ialah makhluk yang orisinal mengalami sesuatu tanpa harus menyadari dan merumuskan pengalamannya. Kalau manusia, punya perangkat yang membuatnya bisa mengambil jarak intelektual dari orisinalitas dan otentisitas kemakhlukannya”

“Cak, ini serpihan Keraton Yogya, bukan wacana hewan…”

“Karena bukan hewan, maka ia punya perangkat yang namanya akal. Akal berafiliasi dengan hati, hati itu nukleusnya kalbu. Nukleolus-nya nurani. Manusia berlayar di samudera pertanyaan-pertanyaan. Perahunya akal. Layar penentu arahnya nurani. Jawaban diperoleh atau tidak bergantung ketepatannya memilih administrasi layarnya”

“Apakah dengan kalimat-kalimat itu Sampeyan sebetulnya berbicara wacana Keraton Yogya”

“Di Jawa itu namanya sawang-sinawang. Kasusnya pada masing-masing kemungkinannya dua: biso rumongso, atau rumongso biso. Yang biso rumongso, meskipun pada posisi tertindas, ia tetap mempunyai keinginan yang potensialitasnya lebih besar dibanding ketiadaan harapan. Yang rumongso biso, yang merasa mampu, merasa menang, merasa berkuasa, merasa weruh sakdurunge winarah, merasa niscaya kondusif di hari esok – tidak berhitung ada “ranjau” yang berjulukan “min haitsu la yahtasib”. Lebih banyak, jauh lebih banyak kemungkinan yang tidak diperhitungkan olehnya, dibanding kepastian yang ditetapkannya”

Di Japri orang itu muncul emoticon kepala tertawa hingga sepuluh. Kemudian disusul: “Diomongin terang-terangan saja belum tentu ngerti dan sadar. Kok Sampeyan mubeng munyer men-thawaf-i filosofi dakik-dakik…”

Aku tidak peduli. Kuteruskan: “Berikutnya Tuhan menyikapi insan dengan idhlal. Manusia maunya sesat, ya Kutambahi kesesatannya. Dan terakhir, tarkun atau tark. Mereka meninggalkan-Ku, maka mereka Kutinggalkan. Kubiarkan. Kucuekin. Kubiarkan insan melaksanakan apa saja, mengambil keputusan apa saja. Pasal yang Kupakai tinggal Sorga atau Neraka. Sorga untuk yang dianiaya, Neraka untuk yang menganiaya….”

Bersamaan dengan japri ini saya diserbu oleh yang lain-lain bersahut-sahutan.
   
“Mbok cespleng saja. Tunjuk siapa-siapa, ini itu, dalam duduk masalah yang sedang makin memanas di Keraton Yogya”
   
“Apa inti masalahnya. Terangkan paugeran itu apa, pranatan itu apa. Siapa yang melanggar. Siapa yang dilanggar. Siapa yang adigang adigung adiguna. Siapa yang dianiaya. Sabda Raja itu levelnya wahyu, karomah, ma’unah, fadhilah, ilham, wangsit, ndaru, ataukah yuwaswisu fi shudurinnas, minal jinnati wannas?”

“Kalau hal sikap NKRI terjadap Kerajaan, sudahlah. Itu Gudèl Ngeloni Kebo. Anak Kerbau meniduri Kerbau. Tidak perlu dipertanyakan kenapa ia merasa berhak menentu-nentukan masalah yang di luar wilayahnya. Terhadap dirinya sendiri saja NKRI tidak menentu pemahaman dan sikapnya. Yang saya tanyakan ialah bagaimana Keraton itu terhadap dirinya sendiri”

Waduh panjang dan banyak amat yang ia tanyakan.

“Apakah ada semacam pendidikan di internal Keraton bahwa semesta nilainya bukan Negara. Sebelum berguru wacana embat-embatan konstitusional dan kultural antara Keraton dengan Negara, kita perlu perjelas kosmos Keraton itu sendiri bagaimana. Apakah masih kontinu dan konstan kependidikan kekeratonan, contohnya semenjak HB I hingga HB X saja. Kawruh batin…”

Kayaknya ini bukan orang yang sedang bertanya.

“Pendidikan kepribadian, keksatriaan, kepriyagungan, keperwiraan. Pendidikan kedewasaan, kematangan, kearifan. Pendidikan tata krama, subasita, budi pekerti. Pendidikan sebagai Raja, Pangeran, manusia, lelaki, perempuan, suami, istri, putra Dalem, wayah Dalem dan seterusnya. Itu sekedar referensi sebagian sisi yang perlu kita ketahui…”

Kupenggal pertanyaannya dan kujapri balik: “Yang Sampeyan tanyakan itu semua bukan pertanyaan. Hanya orang yang sudah mengerti itu semua yang bisa melahirkan pertanyaan-pertanyaan wacana itu semua…”

Tiba-tiba nongol japri lain: “Siapa sebetulnya yang dimaksud Gusti Ratu Ibu?"


Yogya, 12 September 2017
Emha Ainun Nadjib
#Khasanah

https://www.caknun.com/2017/gudel-ngeloni-kebo/


Subscribe to receive free email updates:

ADS