Menggendong problem Keraton dan Indonesia sangat ‘njarem’ di hati. Sebab itu yakni lubang dan retakan di dalam rongga nasionalisme keindonesiaanku. Aku keluar rumah, berlari ke lapangan sepakbola. Menghela napas panjang dengan irama perlahan-lahan, sambil kaki berlari-lari kecil, tetapi tidak dalam irama yang sama dengan ritme napasku. Cucu-cucuku kesebelasan nasional U-19 sedang berjuang di medan laga Myanmar, dan mestinya itu menciptakan hati Indonesia kita tergetar.
Di AFC U-19 2014 bersama istri dan seorang sahabat saya nongol di Yangon dan Naypyidaw, Myanmar, tanpa diketahui sebelumnya oleh Evan Dimas dkk. Juga kami tidak merasa siapa-siapa sehingga harus memberitahukan partisipasi kami terhadap usaha U-19, kepada Coach Indra Sjafri, BTN, maupun para pengurus PSSI di sana. Kami mengikuti proses mereka, ranjau-ranjau yang menghadang mereka, tetapi kami hanya suporter, penggembira berkibarnya Merah Putih di kepingan bumi manapun.
Tidak penting untuk diceritakan apa yang kami lakukan di Yangon dan Naypyidaw. Yang utama kini sehabis melahap Filipina 9-0, kemudian diuji 0-3 oleh Vietnam, kita berharap sekurang-kurangnya 3 gol disarangkan bawah umur ke gawang Brunei. Sesudah itu mateg aji lagi berjuang menegakkan Merah Putih di puncaknya. Yang dilakukan oleh Coach Indra Sjafri yakni mencari Indonesia di kaki bawah umur asuhnya U-19 yang orisinal putra Nusantara. Mohon izin – jikalau saya menyebut nama “X”, tidak berarti saya anti “Y” atau “Z”, sebagaimana tradisi atmosfer perpolitikan kita. “X” disebut semata-mata alasannya temanya harus menyebut “X”.
17 Agustus yang kemudian mereka beramai-ramai tiba ke Maiyahan Mocopat Syafaat di Tamantirto, Kasihan, Bantul. Jamaah mendoakan mereka, Coach Indra menuturkan tekadnya, bawah umur refreshing dua jam dengan para penari 5 Gunung sekitar Magelang dan seorang Etnomusikolog Profesor tamu dari Amerika. Substansi doa Jamaah Maiyah bukan terutama untuk kemenangan dan keunggulan. Melainkan pertama, untuk peneguhan diri keindonesiaan dalam jiwa pemain. Kedua, semoga selamat dari ranjau-ranjau yang diproduksi oleh dismanajemen persepakbolaan NKRI yang bisa “nyrimpeti” kaki mereka, sebagaimana U-19 yang sebelumnya.
Bapak dan Pahlawan Pendidikan Nasional kita Ki Hadjar Dewantoro mewanti-wanti siapapun saja bangsa Indonesia yang memproses administrasi dan transformasi kehidupan: “Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani”. Kalau berposisi di depan, memberi teladan, memelopori kejujuran, kebaikan dan kreativitas. Yang berposisi di tengah ajur-ajer mendorong inisiatif dan daya juang ke sekitarnya. Kalau berposisi di belakang, memberdayakan, mendorong, men-support, menambah energi para pejuang di depannya.
Itulah tahap-tahap karier insan sosial. Pertama mengatakan keteladanannya, sehingga diangkat jadi pemimpin. Sesudahnya berani menjadi rakyat biasa yang berhubungan horizontal dengan semua rakyat. Puncak karier yakni berani dan legowo berposisi di belakang, mengawal perjuangan, menjaga medan perang, merawat ketertataan pasukan-pasukan, serta menyiagakan logistik sejarah.
“Ranjau-ranjau” bagi bawah umur muda pesepakbola, pelajar-pelajar bintang Olimpiade dunia, gerenasi milenium yang mandiri, lebih lengkap pemikirannya dan lebih “berdarah” daya juangnya, para kreator, inovator dan inventor dari kalangan muda – tidak memperoleh ruang yang seharusnya, alasannya ketidakmatangan aliran ber-Negara, serta ketidaksadaran Pemerintah untuk membuka kebun-kebun masa depan bagi rakyat dan bangsanya. Pemerintah yang hanya buruhnya Negara tapi merasa ia yakni Negara, yang gotong royong yakni kumpulan Pejabat-pejabat, yang batas berpikirnya yakni laba individu masing-masing, melalui rekayasa kejamaahan golongannya.
Budaya politik menyerupai kini ini berlangsung, menciptakan wanti-wanti Ki Soewardi Soeryoningrat berubah: “Ing ngarso sung mbuntoni, ing madyo mbubrah karso, tut wuri hanyrekali”. Kalau berada di depan pekerjaan utamanya yakni memonopoli kekuasaan, membuntu jalan siapapun di belakangnya, gudang-gudang uang di manapun “dithithili” untuk bekal 2019. Kalau berada di tengah, menyikut kanan mendesak kiri, menyibak ke depan siapa tahu bisa berada di depan lagi. Kalau berada di belakang, menjegal kaki siapapun di depannya, supaya tidak punya kemungkinan untuk maju ke depan.
Belakang-tengah-depan ini juga konsep waktu dan nilai yang amburadul pemahamannya dalam budaya karier insan Indonesia, yang tuhannya yakni kekuasaan dan harta benda. Bagaimana yang dimaksud maju, kemajuan, sukses, gagal, tertinggal, mengejar dst dalam konsep pembangunan sejarah kita. Misalnya kita batasi saja pada koridor sepakbola: tidak salah bahwa supaya persepakbolaan maju, maka sebaiknya menyewa instruktur dari Negara sepakbola maju. Tapi di lain pihak, itu menciptakan persepakbolaan Indonesia selalu merasa rendah diri, tidak percaya kepada kemampuannya sendiri. Ilmu instruktur abnormal sangat kita perlukan, tetapi defisit psikologis dan mental sepakbola kita mungkin “lebih besar pasak daripada tiang” dibanding ilmu yang didapatkan.
Kalau para pemain dilatih oleh instruktur asing, di bawah sadarnya terdapat anggapan bahwa semua yang benar, yang maju dan andal terdapat pada diri sang pelatih. Sedangkan yang ada pada diri mereka yakni ketidakbenaran bersepakbola, ketidakhebatan dan ketidakmajuan. Pokoknya: yang andal niscaya bukan Indonesia. Dengan psikologi menyerupai itu mereka menendang bola di lapangan. Mungkin kita lupa bahwa pemain sepakbola itu subjek-utamanya bukan Pesepakbola, melainkan Manusia. Yang mana yang tepat: Pesepakbola yang manusia, ataukah insan yang pesepakbola?
Itu menyerupai bawah umur yatim yang ditampung dengan tujuan supaya tidak lagi menjadi yatim. Tetapi malah kita tegaskan keyatiman mereka, kita taruh di rumah yatim, tiap ketika mereka membaca papan nama: Panti Asuhan Anak Yatim. Sehingga mereka merasa dan yakin mereka yakni benar-benar yatim. Itu pun tanpa mereka tahu bahwa terkadang, atau sering, keyatiman mereka dipelihara: alasannya bisa menjadi komoditas tinggi.
Coach Indra mencoba mempertanyakan kepada dirinya sendiri wacana “keyatiman” sepakbola Indonesia. Ia berkeliling Nusantara, talent-scouting, menikmati kiprah para remaja di lapangan, untuk menghimpun keyakinan bahwa fadhilah persepakbolaan dari Tuhan ke bawah umur Indonesia tidak lebih rendah dari bawah umur bangsa manapun. Masalah kita yakni ketidakpercayaan pada diri bangsa kita sendiri, sehingga prinsip pengelolaan dan administrasi yang kita pilih juga tidak produktif bagi peningkatan persepakbolaan nasional.
Tulisan ini tidak mengantarkan U-19 menjadi juara atau tidak. Bola itu bundar. Kalau ada kepastian akan menang atau kalah, niscaya turnamen batal diselenggarakan. Tulisan ini sekadar mencatat apakah dalam tata kelola sepakbola, kita sudah mulai bisa menemukan teladan transformasi yang sempurna untuk maksimalitas keindonesiaan kita.
Misalnya apakah dulu ketika Perserikatan diradikalisasi menjadi profesionalisme Galatama, sudah kita pelajari di mana kekhilafan teori transformasinya. Apakah kekerabatan Kerajaan dengan Negara bersifat memakai teori transformasi ataukah ‘transbengkalai’. Apakah transformasi Indonesia Tanah Pusaka menjadi sub-perusahaan Globalism Company, sudah dihitung matang, sampaumur dan akurat ke presisi masa depan Bangsa Indonesia, yang oleh Tuhan tidak diciptakan sebagai Bangsa Amerika, Bangsa Jepang, Bangsa Korea, Bangsa Arab, Bangsa Yahudi atau Bangsa Cina. Wong terang kita ini Bang-Samiun dan Bang-sat.
Yogya, 13 September 2017
Emha Ainun Nadjib
#Khasanah
https://www.caknun.com/2017/mencari-indonesia-di-kaki-u-19/