Sedang asyik membaca “dlahak kubro” keputusan konstitusi bahwa siapapun boleh jadi Raja Yogya, sambil mulai nulis “Horee! Saya Bisa Kaprikornus Raja Yogya!” — mendadak Pancasila menepuk pundak aku dan berkata keras: “Sudahlah, nggak usah nulis lagi perihal saya. Saya tidak butuh itu semua….”
Saya menjawab spontan: “Lho aku yang butuh…”
Saya terus menyentuh-nyentuh kepustakaan primer sumber konstitusi Keraton Ngayogyakartahadiningrat, Mataram Islam: yakni “Serat Suluk Garwa Kencana”, “Serat Iskandar Zulkarnain”, “Serat Yusup”, “Serat Usulbiyah”, bahkan melirik “Tajussalatin” dan “Bustanussalatin”. Bahkan aku siapkan Tumpengan untuk revolusi Yogya. Tumpeng artinya “metu mempeng”. Kalau sudah keluar keputusan, harus tandang maksimal. Cancut Taliwondo.
Tapi karenanya terpaksa stop dulu. Sebab Pancasila membantah: “Kamu hanya menggunakan aku untuk materi setoranmu kepada Tuhan. Kamu menjual aku ke Tuhan, biar beres masalahmu dengan Dia dan tidak dimarahi”
“Bukan menjual Njenengan, tapi aku nyaur utang ke Tuhan. Tapi sebagai warga negara Indonesia, aku sungguh-sungguh membutuhkan Njenengan. Seluruh rakyat Indonesia sangat menantikan wujud keadilan dan keberadaban, persatuan sejati Indonesia, prosedur permusyawaratan dan perwakilan yang mengakomodasi secara otentik hak dan aspirasi mereka. Sudah bergenerasi-generasi rakyat menunggu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”
“Aaah, omong kosong!”, makin meninggi bunyi Pancasila, “Indonesia tidak pernah menyapa saya. Tidak care. Tidak serius menyayangi dan mengapresiasi saya. Saya cuma dieksploitasi untuk kemenangan dan kekuasaan politik…”
Tiba-tiba pula salah seorang dari sobat empat aku nimbrung: “Ada agenda apa sih kok getol amat nulis Pancasila?”
Tentulah aku malas menjawab pertanyaan sinis yang bermuatan kecurigaan dan ketidakpercayaan menyerupai itu. Hampir aku nyeletuk: “Karena aku Muslim. Karena aku dibesarkan di lingkungan nilai Islam. Sejak kecil aku dilatih menemukan Islam di alam dan kehidupan manusia…”
Tetapi sebelum aku sempat menjawab, sobat yang lain mendahului: “Sebenarnya tidak ada Pancasila pun kehidupan ini tidak merugi apa-apa. Bahkan seandainya suatu hari tidak ada Indonesia, juga itu masuk akal dan rasional saja. Sebab urusan Tuhan hanya dengan manusia. Per manusia. Indonesia mungkin disebut-sebut, tetapi sekadar sebagai kepingan dari urusan per insan itu”
Sahabat lain menambahkan: “Tugas kita kan memang di sub-sub-directory yang berjulukan Indonesia. Sub-directory-nya bumi. Directory-nya jagat raya. Partisinya Amr. C-prompt-nya Iradat. Hakiki Pancasila ialah hidden files di root-nya, meskipun di situ tidak disebut Pancasila. Ia bermetamorfosis Pancasila di sub-sub-directory Indonesia. Sebagaimana Nur Muhammad sejenak bermetamorfosis Muhammad bin Abdullah di sentra kumparan energi bumi. Kualitas kepribadiannya Al-Amin. Pangkatnya Nabi. Jabatannya Rasul. Jimatnya kelembutan. Keris pusakanya kasih sayang…”
Dilengkapi oleh sobat yang lain lagi: “Kita mengkhusyuki Pancasila sebagaimana Muhammad mengganjal perutnya dengan kerikil alasannya ialah lapar. Tinggal di rumah bilik yang panjangnya 4,80 meter dan lebarnya 4,62 meter. Menangis di setiap shalat malam alasannya ialah tidak tega melihat kehidupan manusia, meskipun sorga sudah menanti. Ditenung orang hingga tubuh memanas di suhu 53 derajat Celcius. Kita harus mendapatkan penderitaan lebih menyakitkan dibanding derita insan lain siapa saja. Tanpa menikmati seperseribu pun kesejahteraan dari kekayaan rata-rata manusia. Kita berpuasa tak mengejar hak-hak kita atas Indonesia. Kita bertirakat tidak mengambil dan merebut apapun dari Indonesia. Kita sangat serius mendalami Pancasila alasannya ialah inilah salah satu sedekah utama kita kepada Indonesia”
Empat sobat bersahut-sahutan menjawab. Saya jadi ringan. Sempat mengantuk dan tidur, sambil jantung aku tetap berdegup, napas aku tetap berlangsung, darah aku tetap mengalir, setiap sel dan pori-pori aku mendokumentasi semua yang sahabat-sahabatku omongkan.
“Di kalangan Kaum Muslim sangat terkenal pandangan bahwa “kita haturkan shalawat dan salam kepada junjungan Baginda Nabi Muhammad saw yang telah membawa kita terbebas dari keadaan Jahiliyah menuju zaman yang bercahaya jelas benderang”. Jangan dipikir bahwa Abu Sufyan digelari Abu Jahal (bapaknya kejahiliyahan) alasannya ialah ia bodoh, tidak sanggup berpikir dan bukan intelektual. Jahiliyah bukanlah soal kebodohan atau kemunduran berpikir. Di masa Muhammad memperkenalkan Tauhid, kebudayaan Arab sangat tinggi, kaum cendekiawan, sastrawan, penyair dan budayawan sedang prima prestasinya.”
“Mereka disebut Jahiliyah tidak alasannya ialah bodoh, melainkan alasannya ialah kepandaiannya tidak didayagunakan untuk ma`dabah, untuk menyelenggarakan bangunan hidup yang “adil dan beradab”. Atau jikalau pada perspektif Tuhan Yang Maha Esa: kecendekiawanan masyarakat Abu Jahal tidak diaplikasikan untuk mencapai keselamatan di hadapan Tuhan. Keselamatan itu sanggup pada level tidak dimurkai oleh Tuhan, atau puncaknya: diridlai oleh-Nya.”
(Bersambung)
Emha Ainun Nadjib
03 September 2017
#Khasanah
https://www.caknun.com/2017/setor-dan-sedekah-pancasila/