Manusia yang paling sial di dunia ialah yang tak seorangpun berani menyalahkannya. Pemimpin yang paling berbahaya bagi rakyatnya ialah pemimpin yang semua orang tidak mengemukakan kebenaran kepadanya, baik alasannya ialah takut, kepentingan untuk menjilat, atau alasannya ialah perilaku kemunafikan. Ketika pemimpin ini bertelanjang lingkaran pun bawahannya membungkuk dan bilang “Jas dan dasi Bapak manis sekali”.
Kalau orang yang demikian itu kebetulan seorang pemimpin, maka ia dapat disebut “Pemimpin Yang Tuhan”. Sebab can do no wrong. Ia dianggap mustahil salah. Ia diyakini selalu benar. Maka selalu harus dipuji, dilindungi, dibela: bila perlu dengan toh nyowo, bertaruh nyawa. Segala keburukan, asal dia yang melakukan: menjadi kebaikan. Segala kebodohan, asal dia yang melakukan: menjadi kepiawaian. Segala kekonyolan, asal dia yang melakukan: menjadi kemuliaan. Ia bagaikan Tuhan itu sendiri. Minimal tajalli-Nya.
Kondisi itu menciptakan pihak lain yang berseberangan melaksanakan ekstremitas dan kemutlakan perilaku yang sama. Pemimpin yang ‘Tuhan’ bagi pihak lawannya dipandang sebagai Pemimpin yang ‘Setan’ bagi pihaknya. Selalu salah. Polaritas pemihakan politik merasuk hingga ke perihal budaya, ilmu dan psikologi masyarakat. Manusia berhijrah dari kemanusiaannya, berkembang menjadi jadi Malaikat yang tak mungkin salah, serta Setan yang mustahil benar.
Itu pun tidak pernah tercapai objektivitas pengetahuan yang mana Malaikat yang mana Setan. Karena setiap Setan disebut Malaikat, dan setiap Malaikat disebut Setan. Semua memalaikatkan golongannya dan mensetankan golongan lain. Manusia gagal menjalani hakikat penciptaannya setelah formula Malaikat, Alam dan Iblis. Bersama masyarakat Jin, insan dibekali perangkat untuk me-manage dialektika, mengelola keseimbangan, meneliti persenyawaan, memperjodohkan konkret dan negatif menjadi lampu yang bercahaya.
Ada beberapa kemungkinan yang terjadi pada “Pemimpin Yang Tuhan”. Mungkin jumlah amal baiknya, sedekah dan kemuliaan sosialnya, sebelum jadi pemimpin, membuatnya dilindungi oleh Tuhan. Keburukan dari luar diharamkan oleh Tuhan untuk menyentuhnya. Aibnya ditutupi. Indikator kemungkinan ini ialah berlangsungnya secara terang “benar itu benar, bathil itu bathil” di masyarakat dan Negaranya.
Kalau yang berlangsung dalam prosedur ber-Negara dan budaya masyarakatnya ialah kurang jelas antara yang benar dengan yang bathil, antara baik dengan buruk, dominasi hiprokrisi, kemunafikan, kepura-puraan, pencitraan dan pemalsuan – maka kemungkinannya ialah frekuensi “Dajjal”. Di mana api dipahami sebagai air, dan air malah terasa api. Neraka diiklankan sebagai Sorga, sementara disebarkan phobia-sorga ke seantero Negeri, dengan aneka macam bentuk dan formula.
Kalau tanda-tanda ini yang terkuat, maka treatment dari Tuhan mungkin sekali bukan ujian, bukan peringatan, bukan pula eksekusi – melainkan homogen adzab. Kalau ujian, akan naik derajat. Kalau peringatan, itu penyelamatan. Kalau adzab: tidak sama dengan hukuman. Kalau hukuman, berfungsi pembersihan. Output eksekusi ialah kehalalan kembali.
Sedangkan adzab, hilirnya hanya kesengsaraan. Turnamen Dunia-Akhiratnya penderitaan, dapat di babak penyisihan sudah menderita, dapat di perempat final, semifinal, selesai atau seusai turnamen tetap sengsara. Kholidina fiha abada. Lestari abadi. Mulai kapan itu terjadi? “Amhilhum ruwaida”, kata Tuhan, Ku-kasih batas waktu tenggang sejenak.
Kemungkinan lain ialah kumpulan para penyihir ulung mengelilingi Presiden. Semua kritik, pembunuhan karakter, oposisi, tidak mempan. Di kala 16 dulu Mataram Islam mengganti latar wibawa Walisongo Demak Pajang dengan mitologi Kanjeng Ratu Kidul. Amar langit, digeser ke sihir Bumi. Semua penguasa Pulau Jawa berabad-abad koalisi utamanya ialah Ratu Kidul. Rompinya Bung Karno di balik jas-nya hijau renta bertuliskan ayat-ayat dibikin oleh tokoh diam-diam Madura.
Juga bungkusan dalam tas Yang Uti dikala revolusi internal parpol besar di Asrama Haji Surabaya, dari Madura juga. Tapi sejarawan tak mungkin berurusan dengan aneka macam diam-diam samar di belakang Bung Karno, 39 paranormalnya Pak Harto. Sampai dikala Gus Dur saya “iguh” jadi Presiden mengalahkan Mega dan Habibie, saya fetakompli “tidak boleh lagi ada kontak dengan Kanjeng Ratu Kidul”. Persis sebagaimana dikala 200-an Raja-raja Nusantara berkumpul di Keraton Yogya, dalam rangka launching Al-Qur`an Keraton, saya fetakompli di depan HB-X dan semua Raja-Sultan: “Dengan resminya Al-Qur`an Keraton Yogya malam ini, tidak ada lagi kaitan semua Keraton Nusantara dengan Kanjeng Ratu Kidul”.
Tetapi Gus Dur punya tanggapan sendiri. Ia tertawa ngakak dikala saya desak jangan pacaran sama Ratu Kidul.
“Ndak masalah, Cak”, katanya, “Saya sudah kirim SMS ke Kanjeng Ratu…”
“Lho kok SMS gimana maksud Sampeyan ini?”, saya bingung.
“Ya. Saya SMS beliau. Saya anjurkan biar mulai pakai jilbab. Dan alhamdulillah Kanjeng Ratu Kidul nuruti saya, kini sudah jilbaban…”
Sekarang ini mungkin Kanjeng Ratu Kidul sudah kembali copot jilbab. Pantas tiga tahun belakangan ini situasi nasional kita keruh, panas dan berbau busuk. (Bersambung)
Yogya, 6 September 2017
Emha Ainun Nadjib
#Khasanah
https://www.caknun.com/2017/pemimpin-yang-tuhan/