ADS

Goatboy (Balada Kambing Dan Garangan)

Aku orang kecil. Anak rakyat kecil. Cita-citaku kerdil: sangat ingin "angon wedus", menggembalakan kambing. Tak terjangkau olehku level "Cowboy" atau "Blantik Sapi". Paling jauh hanya Goatboy.

Tak bisa tahan hatiku. Aku harus punya kambing. Aku ingin menggembalakan mereka ke padang-padang rumput, di lapangan bola, di “tangkis” atau “gesik” yang diapit oleh Kali Gede dan Kali Kanal selatan desaku. Aku ingin melatih keterampilan “ngarit” atau menyabit rumput ibarat Guk Urip yang dahsyat, untuk kambing-kambingku kalau malam di kandang.

Usiaku belum 10 tahun. Tubuhku kuat. Sudah beberapa kali “gelut” atau berkelahi. Kaki dan kelenturan badanku terlatih setiap bermain bola dikala istirahat antara pelajaran di Sekolah, serta hampir setiap sore di lapangan desa. Aku ingin dikala bermain bola itu kulirik-lirik jangan hingga kambing-kambingku melanggar pagar dan memasuki kebun tetangga yang bukan akomodasi umum.

Kenapa saya begitu berangasan untuk menggembalakan kambing? Aku yakin siang itulah pertama kali saya mengalami estetika. Rasa indah, nikmat dan khusyuk. Yakni dikala pulang sekolah melintas desa, di bawah pohon Turi, tepian sungai: saya melihat beberapa ekor kambing meminum air sungai itu dengan lahapnya. Leganya tenggorokan kambing terasa di tenggorokanku. Aku sungguh-sungguh jatuh cinta. Aku yakin kambing yakni salah satu jodohku di dunia.

Tapi untuk punya kambing, saya harus bekerja. Ketika ekspresi dominan panen padi tiba, saya mendaftar ikut “ani-ani”, bersama puluhan orang lain. Yakni mengetam padi dengan alat pengetam manual. Kuangkut dengan “ebor”, lantas ku-“iles-iles” dengan kaki, untuk memisahkan butir padi dari batang dan daunnya. Aku pulang balik dari sawah ke rumah pemilik padi membawa sekian “ebor”.

Setelah terkumpul padi dalam ebor-ebor, kusetorkan kepada pemiliknya. Ia menakar dengan “èmbèr” khusus. Ia mengambil tiga ember, lalu baskom keempat milikku. Sekian ebor padi milikku, kujual kepada “wong nguyang” yang akan menyalurkannya ke pasar. Sangat tidak mengecewakan pendapatanku. Bisa beli minimal dua kambing. Aku merayu Kakekku, Wak Kajumar, biar menambahi uang seikhlasnya, alasannya yakni idealnya kubeli kambing tiga atau empat. Satu pejantan, satu induk, dengan satu atau dua anaknya.

Kakekku bukan hanya menambahi biaya. Ia juga mengantarkanku dibonceng sepeda ke Pasar Peterongan, di seberang Pondok Darul Ulum, yang dulu didirikan oleh Mbah Yai Romli, yang oleh Syaikhona Kholil Bangkalan dibekali setundun pisang. Bersama dengan pembekalan Kitab kepada Mbah Hasyim Asy’ari dan Mbah Darwis Ahmad Dahlan. Serta sangu Cincin kepada seorang murid dia lagi. Mungkin itu merupakan salah satu kunci masa depan Negeri ini, meskipun bangsa ini lebih suka memenjarakan diri di ruangan tertutup, sehingga tidak pernah ingat bahwa ada fungsi kunci dalam sejarah.

Kubeli empat ekor kambing. Jantan, betina, dengan dua "cempé"-nya. Apakah ada entah siapa saja yang ingin tahu betapa susahnya membawa kambing dari pasar ke desaku yang berjarak sekitar 6,5 kilometer? Itu awal 1960an. Belum ada Colt kolam angkut. Hanya sepeda, andong atau becak. Tak ada biaya yang tersisa untuk menyewa mereka. Sepeda Kakekku juga tak mungkin mengangkut empat kambing. Aku harus menyeret mereka. Dan kambing-kambing itu belum kenal aku. Mereka merasa tidak kondusif padaku. Aku harus menyeret mereka berjalan kaki, selangkah demi selangkah. Sangat lamban. Beringsut-ingsut. Karena mereka menolak kuseret.

Sangat sulit memegang dua tali ke leher si jantan dan si betina sekaligus. Sangat berat bagi anak yang belum genap 10 tahun. Setelah sekian ratus langkah, kutemukan bahwa tali yang kupegang dan kuseret cukup satu, yakni tali yang bersambung ke leher si betina. Kalau si jantan yang kuseret, si betina lari ke arah lain, diikuti oleh dua anaknya. Kalau yang kuseret si betina, kedua anaknya mengikuti. Dan ternyata si jantan juga membuntuti, mungkin diseret oleh nafsunya kepada janda kambing betina itu.

Kakekku tersenyum-senyum mengikutiku dengan sepeda di belakang. Tetapi tetap berat juga tarik tambang melawan kambing betina yang merasa terancam olehku, sehingga tidak mau mengikuti arah jalanku. Tak sengaja akhirnya, pada kilometer tiga: kubisik-bisikkan "Bismillahi la yadhurru ma’asmihi syai-un fil ardli wala fissama-i wa Huwas Sami’ul ‘Alim". Dengan nama-Nya, yang tiada ancaman apapun di langit dan bumi, alasannya yakni Ia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui". Kapan-kapan kalau diperlukan, kuceritakan dari mana saya mendapat kalimat itu.

Tak kusangka wajah kambing-kambingku menjadi lunak. Sorot matanya tenteram. Ia berjalan mengikuti arahku tanpa penolakan ibarat sebelumnya. Singkat kata, sisa perjalanan kami lancar hingga desa dan rumah. Beberapa teman mainku bergembira dan penuh ingin tau wajahnya menyaksikan saya tiba dengan sekumpulan kecil kambing.

Mereka merayakan kedatangan kambing-kambingku dengan bernyanyi bersama: “Joko penthil thela-thelo ayo lo, lopis mambu ayo mbu, mbukak tenong ayo nong, nongko sabrang ayo brang, brangkat kaji ayo ji, jimat rojo ayo jo, joko penthiiiiil thela-thelo ayo lo, lopis mambu ayo mbu…” terus berulang-ulang, tanpa akhir, tanpa ujung. Ujung yakni pangkalnya, tamat yakni awalnya.

Sekarang saya resmi menjadi bab dari Masyarakat Kambing. Para penggembala kambing lainnya, Kasmadi, Margin, Kasdu dan lain-lain yakni seniorku. Kami yakni bab dari Pluralisme Peradaban Lembu, Kerbau, Kuda, Monyet dan Burung. Setiap habis lohor, kami bertemu di lapangan demokrasi, menyebarkan rumput dan kegembiraan.

Aku berguru sangat banyak: toleransi, saling menjaga, memelihara keamanan bersama, menghormati para "kakak" yakni alam dan hewan. Mengintensifkan sosialisasi dan silaturahmi antar hewan-hewan dengan menyelenggarakan aneka macam turnamen, sebelum menjelang "surup" senja kami beramai-ramai memandikan gembalaan kami di cabang Kali Kanal. Aku dengan kambingku, kami semua dengan hewan-hewan, sangat bersaudara dan menikmati cinta yang luar biasa.

Ketika memasuki usia dewasa, terutama dikala mulai bau tanah renta kini ini, tak pernah kusangka akan bertemu dengan kambing dan aneka macam jenis binatang lain yang sungguh tidak bisa digembalakan dan tidak bisa menggembalakan diri. Kambing-kambing yang tak bisa dicintai, tak bisa disayang, tak bisa ditolong.

Kupikir pengalaman menggembalakan kambing di masa kanak-kanak akan mempunyai kegunaan besok-besok untuk turut berperan mensedekahi kemajuan Bangsa dan Negara. Ternyata tidak sama sekali. Mereka tidak butuh pertolongan. Karena mereka sangat hebat, bisa makan rumput, alang-alang, damèn, kawul - alasannya yakni tak mengerti beda antara itu semua. Maka mereka juga tidak mau mendengar, tidak butuh melihat, tidak merasa perlu belajar.

Bahkan mereka bisa cukup mengulum-ngulum pasir untuk bertahan hidup. Musang dan Garangan sangat gampang memerintah dan menguasai hutan belantara. Andaikan Garangan memberi mereka makan roti, padahal bekerjsama tai: mereka tidak merasa ditipu, alasannya yakni mereka punya kemampuan untuk menikmati tai.

Yogya, 20 September 2017
Emha Ainun Nadjib
#Khasanah

https://www.caknun.com/2017/goatboy/




Subscribe to receive free email updates:

ADS