Terus terang semakin udzur usia saya semakin kacau hidup saya, alasannya yakni polah Iblis, bukan alasannya yakni yang lain, contohnya Malaikat atau Tuhan. Banyak bawah umur saya di sana sini yang usianya masih muda tapi mengalami benturan besar dalam hidupnya, contohnya terpaksa bercerai dengan suami atau istrinya. Mereka bilang “Yaaah, bersama-sama saya maunya tetap berkeluarga baik-baik, tapi Tuhan yang di atas sana berkehendak lain…”
Masih tidak mengecewakan yang mengacau hidup mereka yakni Tuhan. Pasti ada hikmahnya jikalau Tuhan yang berinisiatif. Tuhan memang Maha Menyesatkan (Al-Mudhill), tetapi niscaya ada kebaikan yang ditabiri belakang layar di balik penderitaan. Toh Tuhan juga Maha Memberi Petunjuk (Al-Hadi). Pun terang Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang. Kaprikornus semenderita apapun, tetap ada menit atau hari atau bulan atau tahun berikutnya yang memuat solusi dan kebahagiaan untuk manusia.
Kalau durasi waktu permainan sepakbola yakni 90 menit, maka menit ke-90 hidup kita kan nanti di ujung keabadian. Kehidupan di dunia ini hanya detik-detik awal di menit pertama permainan sepakbola kehidupan. Sesudah mati kita lepas dari babak penyisihan, masuk ke perdelapan final. Kalah atau menangnya hidup kita masih harus kita tunggu kelak di “kholidina fiha abada”: di pecahan simpulan dari kekekalan dan keabadian.
Kita ini penduduk orisinil Sorga. Disuruh “Malioboro” (dadio Wali kang ngumboro) sejenak. “Mampir ngombe”, kata orang Jawa. Menempuh perjalanan rindu, hingga ke love meeting point di Sorga kembali. “Katakan: jikalau memang kalian menyayangi Allah, maka ikutilah jalanku”. “Barangsiapa kangen untuk berjumpa dengan-Ku, maka berbuat sepakat selama di dunia”. Kehidupan yang berat di dunia dan kesengsaraan sedahsyat apapun tidak persoalan selama di dunia, alasannya yakni toh itu gres detik-detik awal Permainan Abadi. “Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, wahai Maha Kekasih, saya tidak peduli nasib apapun yang harus kujalani di dunia”. Pokoknya jikalau sekadar urusan di dunia: saya gak pathéken!
Masalahnya, kesengsaraan yang saya alami ini bukan Tuhan inisiatornya, melainkan Iblis. Baik kesengsaraan sebagai individu, penderitaan sebagai seorang Muslim, maupun keterpurukan sebagai bangsa Indonesia. Iblis benar-benar menjalankan apa yang dulu ia tuduhkan kepada Adam dan anak turunnya: “Untuk apa Engkau ciptakan manusia, wahai Allah, toh sudah selalu terang profesi mereka yakni merusak bumi dan berbunuh-bunuhan” di antara mereka, dengan banyak sekali cara dan dalam banyak sekali level, segmen, konteks dan nuansa. Iblis memang bandit, preman, korak, gali, munyuk, menyun, bangsat, taek lintung, dobol, demit, sèmpel, pekok, ahmaq….
Nah, Ahmaq ini utamanya. Semua orang tahu apa itu Ahmaq. Sejak kecil saya berjuang, tirakat, lelaku, puasa nasi dan hanya makan gaplek atau bugik, latihan menaklukkan diri sendiri, menyayangi Tuhan, alam dan manusia. Tapi di usia bau tanah kini ini malah saya jadi Ahmaq. Iblis melaksanakan rekayasa, penelusupan, perongrongan, subversi, terorisme intelektual dan banyak sekali formula lagi, sehingga berhasil menciptakan saya menjadi Ahmaq.
Saya frustrasi alasannya yakni tiba-tiba menjumpai saya yakni Ahmaq: insan yang tidak memenuhi syarat untuk disebut manusia. Manusia yang sudah tidak sanggup diajak omong. Tidak sanggup mendengarkan. Tidak mau bermusyawarah. Tidak sanggup mendapatkan apapun selain yang sudah ada pada dirinya. Manusia yang terkurung di dalam kotak kebenaran subjektifnya sendiri, sehingga jikalau ia berekspresi, berinteraksi atau berdebat dengan insan lain, yang ia bawa bukan kebenaran, melainkan pembenaran atas (yang ia sangka) kebenarannya sendiri.
Pokoknya yang benar yakni saya. Siapa saja dan apa saja yang tidak sama dengan saya, niscaya tidak benar. Pandangan yang bukan sebagaimana pandangan saya, berarti sesat. Pikiran yang tidak persis menyerupai pikiran saya, berarti kafir atau musyrik. Tindakan yang bertentangan dengan kemauan saya, berarti makar. Kata dan kalimat yang tidak cocok dengan kepentingan saya, berarti hoax. Kalau saya bilang a-b-c-d, maka alif-ba-ta yakni radikal. Kalau ketetapan saya yakni Sunday-Monday, maka Pahing-Kliwon yakni intoleransi. Kalau kebenaran saya yakni Abajadun-hawazun, maka Honocoroko yakni penghuni neraka.
Kalau saya bilang Pemerintah benar, maka kebenarannya adikara sebagaimana Tuhan dan Nabi. Kalau saya nyatakan Pemerintah salah, maka kesalahannya mutlak menyerupai Iblis, Setan, Dajjal, Druhun. Dan anehnya, justru Iblis yang mendidik cara berpikir, mental dan budaya saya untuk ber-ahmaq ria menyerupai itu. Lebih tidak simpel dimengerti lagi aplikasi abstrak itu kabarnya memang merupakan pecahan dari klausul kontrak antara Iblis dengan Allah swt. Yang berlaku hingga Hari Kiamat. Yaumul Qiyamah. Hari Kebangkitan. Momentum Transformasi dari babak penyisihan di Bumi menuju babak berikutnya, dengan sistem nilai yang sama sekali berbeda. Entah dari jasmani mengefisien menjadi rohani. Jasad ke roh. Atau raga ke sukma. Atau Sukmo Nguntal Rogo. Entah bagaimana. Saya harus segera cari rujukan wacana itu di Perpustakaan Universitas. Ada yang bilang sanggup googling: Iblis.com. Password-nya: indonesiaraya.
Akan saya lihat. Harus segera saya lakukan penelitian dan pendataan. Karena bukan hanya menyangkut kehancuran diri saya, tapi Iblis juga sangat menguasai seluruh perangkat perusakan dan penghancuran atas NKRI. Sedangkan berdasarkan Nabi Isa As dan Sayidina Ali bin Abi Thalib, obatnya penyakit Ahmaq hanya satu: kematian.
Yogya, 28 September 2017
Emha Ainun Nadjib
#Khasanah
https://www.caknun.com/2017/password-iblis-com/