ADS

Mendadak Republik (Ikan Tanpa Sungai)

Tulisan ini diperuntukkan khusus bagi sedikit orang yang pernah bersentuhan dengan saya, bergaul, berinteraksi, bersilaturahmi, eksklusif maupun tidak langsung. Khususnya yang berkaitan dengan tulisan-tulisan saya.

Ini sebuah pesan khusus. Setelah mengalami Indonesia 60 tahun lebih, karenanya aku menyadari bahwa kemungkinan besar Anda harus mencurigai tulisan-tulisan saya. Terus terang aku agak curiga bahwa pada apa yang aku tulis selama ini terdapat potensi kontra-produktif bagi visi misi masa depan dan kebangkitan Negara, bangsa, maupun manusia.

Baik muatan nilai-nilainya, asal-usul lahirnya tulisan-tulisan itu, contoh pandangnya, jenis analisisnya, khasanah pengetahuannya, cara mengolah bahan-bahannya, mungkin termasuk juga latar belakang pengalaman hidup saya, yang mengakibatkan semua itu.

Sudah diterbitkan hampir 80 buku aku semenjak 1978. Bahkan banyak judul yang terus-menerus diterbitkan ulang dan ulang lagi, setelah penerbitan pertama 30-40 tahun yang lalu, oleh Penerbit yang sama maupun yang berbeda. Saya khawatir ini semacam ketersesatan, salah sangka, keliru paham, atau semacam takhayul.

Beberapa teman menghibur aku bahwa buku-buku itu diterbitkan kembali lantaran isinya tetap relevan setelah puluhan tahun hingga dikala ini. Saya belum berhasil meyakini itu. Saya curiga ketika para pembaca membuka buku saya, yang tertera di lembaran-lembarannya ialah prasangka-prasangka mereka sendiri atas saya. Mereka menggambar aku di benak mereka, padahal itu tolong-menolong bukan saya. Semacam insiden mitologisasi atau pentakhayulan.

Bahkan sanggup saja ketika mereka membaca goresan pena saya, yang hingga ke otak dan hati mereka sudah digantikan oleh gosip dan nuansa yang lain, yang tidak berasal dari saya. Itu menyerupai dengan insiden “wama romaita idz romaita walakinnalloha roma”. Ketika suatu kejahatan meluncur menuju Anda, Malaikat Allah sanggup menungganginya, mengambilalihnya, mengubahnya, sehingga tatkala tiba ke Anda, ia bermetamorfosis rahmat dan barokah.

Sama dengan contohnya Polisi tiba mau menangkap Anda, tetapi tidak jadi, lantaran di mata Polisi itu yang ia jumpai bukan lagi Anda. Pak Harto menjelang lengsernya bertemu dengan seseorang yang di pandangan Pak Harto ia ialah Sunan Kalijaga, sehingga dia mendengarkan dan patuh kepada saran-sarannya. Padahal sesungguhnya yang hadir ke depan Pak Harto bukanlah Sunan Kalijaga.

Atau ketika Anda meyakini bumi ini lingkaran datar menyerupai piring atau teratai, ketika Anda melihatnya dari angkasa ketinggian tertentu: di mata Anda bumi ini benar-benar datar – lantaran Tuhan tidak tega untuk mengecewakan Anda yang sangat meyakini bumi ini datar. Di dikala lain teman Anda yang beropini bumi ini bulat, ketika ia menyaksikannya dari angkasa ternyata datar – lantaran dikala itu Tuhan ingin menguji keyakinan dan ilmunya.

Mudah-mudahan Allah menolong Anda dan saya. Seburuk apapun goresan pena saya, ketika Anda membacanya Tuhan menjadikannya baik untuk Anda. Alhamdulillah VOC dan Kerajaan Belanda berdagang menggerogoti kekayaan tanah air kita berabad-abad lamanya, sehingga menciptakan kita berproses menjadi satu bangsa yang kemudian berinisiatif untuk bareng-bareng bernegara. Syukur terjadi kecelakaan di jalan raya, sehingga Anda menolong perempuan pengendara motor itu dan kemudian menjadi Ibunya putra-putri Anda.

Akan tetapi insan sudah diberi perangkat-perangkat untuk membangun diri dan peradabannya, sehingga tidak pada tempatnya jikalau kita memprimerkan kemanjaan untuk ditolong Tuhan, tanpa mengandalkan kerja keras dan kesadaran kita sendiri. Terhadap tulisan-tulisan saya, Anda sebaiknya tetap objektif dan kritis. Sudah ribuan jumlah goresan pena aku dalam banyak sekali tema dan bentuk – tetapi semua itu tidak berdasar ilmu dan pengetahuan yang jelas. Tidak ada tumpuan atau kepustakaan sebagaimana lazimnya goresan pena diproduksi.

Ibarat bebuahan, tulisan-tulisan aku tidak terperinci kebunnya. Ibarat ikan, tidak terperinci sungainya. Seakan-akan aku hanya bawa keranjang dan buah-buahnya masuk sendiri ke dalam keranjang. Seolah-olah aku bawa wuwu dan ikan-ikan berlompatan sendiri memperangkap dirinya. Ini tidak ahistoris dan irasional, serta tidak sanggup menjadi pendidikan yang baik untuk pembelajaran proses hidup. Indonesia dilarang membiarkan dirinya dikuasai oleh animasi-animasi liar sejarah, kepemimpinan yang tanpa landasan nilai dan pemimpin yang tanpa asal-usul kualitatif.

Peristiwa lahirnya tulisan-tulisan aku tidak mendidik masyarakat pembaca, utamanya generasi muda – dalam membiasakan diri memahami kehidupan sebagai insiden hulu-hilir, sebab-akibat dan sangkan-paran. Tidak sanggup tiba-tiba aku menyebut 7 tanpa 6, 5, bahkan 2,1. Bangsa Indonesia harus mengerti hujjah ilmiahnya kenapa tiba-tiba kita menjadi Republik Indonesia dan bentuk Negara Kesatuan. Sedemikian mantapnya dan tanpa pertanyaan. Seolah-olah tidak ada pilihan lain, seolah-olah hidup ini sedemikian sempitnya, dan seolah-olah ilmu tidak ada cakrawalanya.

Saya menulis tanpa sejarah yang sanggup dilihat dari luar. Muatan tulisan-tulisan aku tidak ada asal-usulnya yang sanggup diidentifikasi dan didata. Tulisan aku tidak punya dapat dipercaya keilmuan, tanpa ekspertasi, sehingga pada hakikatnya aku tidak kompeten untuk menulis.
Itu sangat berbahaya bagi regenerasi keterdidikan dan keberadaban bangsa Indonesia. “Freedom of Speech“, kebebasan ekspresi, tidak serta merta membolehkan ungkapan apa saja tanpa parameter nilai, tanpa penakaran kualitas, serta tanpa pertimbangan mashlahat atau mudlarat, produktif atau kontra-produktif.

Bangsa Indonesia dititipi oleh Tuhan tanah air terdahsyat sedunia, serta dititipi diri bangsa ini sendiri yang sarat fadhilah, multi-talenta, tangguh mentalnya dan nekat budayanya. Kita dilarang main-main dalam mengelola sejarah. Kemerdekaan tidak sama dengan kebutaan terhadap batas. Kebebasan bukan proses bunuh diri yang disamarkan.

Segala manifestasi kreatif dari belum dewasa bangsa, khususnya tulisan-tulisan dan kiprah saya, sungguh harus diraba potensi destruktifnya. Jangan hingga yang dibaca dari yang aku tulis, menciptakan orang salah memetakan nilai-nilai kehidupan, terutama dalam kaitannya dengan kebangsaan dan kenegaraan. Kesalahan pemetaan itu memproduksi kesalahan-kesalahan berikutnya. Sehingga salah pula ketika memahami hakikat dan substansi Negara. Kemudian salah memproses tata kelolanya. Berikutnya tidak pernah sempurna menentukan pemimpinnya. Bangsa kita menyerupai sedang bunuh diri dengan deret hitung atau deret ukur kesalahan demi kesalahan. Dan aku sanggup masuk neraka jikalau ternyata ada prosentase andil dari tulisan-tulisan saya.

Perth, 23 September 2017
Emha Ainun Nadjib
#Khasanah
https://www.caknun.com/2017/mendadak-republik/

Subscribe to receive free email updates:

ADS