Aku ingin bercerita ihwal kambing, air sungai, dan sumur, pengetahuan ihwal apa yang disembunyikan oleh manusia, serta ihwal mempelajari kepemimpinan dan berguru memimpin. Juga ihwal rasa malu. Agak panjang kisah dari masa kanak-kanakku ini.
Berjalan kaki pulang sekolah di desa seberang yang jaraknya sekitar 3 kilometer dari rumah di desaku, melintasi beberapa jembatan, pesawahan dan galengan-galengannya, sampailah saya di tepi sungai kecil sebelah utara desaku.
Siang sangat terik. Keringat mengucur. Haus di tenggorokanku luar biasa. Aku duduk sejenak di bawah formasi pohon Turi. Air bening bergemericik di bawah kaki, mengalir lembut tapi lincah. Lembah panjang di tanah, dialiri air, menjadi sungai.
Kebiasaanku setiap pulang sekolah ialah meminum air sungai, membungkukkan badan, menjulurkan kepala dan “ngokop” airnya selahap-lahapnya. Atau jikalau sudah lewat sungai gres terasa haus, aku, tentu dengan beberapa teman, menengok-nengok jikalau ada sumur entah di halaman atau samping rumah siapa. Kami akan menimba, dan meminum airnya bergiliran.
Tak pernah kami meminta izin kepada pemilik sumur itu. Kelak setelah pintar balig cukup akal saya sering mencoba mengingat-ingat: bagaimana mungkin kami bisa menimba sumur siapapun, meminum airnya, tanpa menerima risiko apa-apa. Tidak dimarahi, tidak dilaporkan ke Polisi, juga tidak disebut berdosa alasannya mencuri oleh Pak Kiai di Langgar dan Masjid.
Mungkin insan sudah berkembang sangat jauh berbeda dibanding dulu. Pemahaman ihwal “milik”, “mencuri”, “berdosa”, sudah berubah hampir total. Kalau ada di sumur di halaman rumah seseorang, apakah berarti tuan rumah itu ialah pemilik tanah dan air sumur itu? Manusia dulu berbeda dengan insan kini dalam memahami subjek dan konsep kepemilikan atas suatu benda.
Orang yang sumur di halaman rumahnya kami minum airnya, mungkin tidak merasa bahwa sumur itu ialah miliknya. Mungkin orang-orang dulu sangat rasional dan berkesadaran historis sangat tinggi. Bagaimana mungkin insan mempunyai tanah, mempunyai air. Meskipun ia yang melubangi tanah sehingga menjadi sumur yang muncul airnya, toh alat-alat untuk menggali sumur itu: tangan, kaki, jari-jemari, pikiran untuk membuat linggis dan cangkul – bukanlah juga miliknya.
Sungguh berbeda dengan insan zaman kini yang sangat kreatif dan inovatif. Mereka bisa membuat tanah dan air, udara dan pepohonan, kerikil dan tambang emas – sehingga semua itu menjadi dan ialah milik mereka. Dengan surat-surat kepemilikan yang mereka bikin sendiri, sehingga pemilikan itu menjadi sah. Manusia modern ialah kompetitor Tuhan yang mampu membuat bumi, gunung-gunung, lautan dan hutan belantara.
Jadi apakah sumur di rumah semua orang ialah juga milik semua orang sehingga boleh diminum oleh semua orang? Ataukah alasannya kami ialah belum dewasa kecil, maka tidak diperlakukan sebagaimana orang dewasa? Tidak sepenuhnya menyerupai itu. Sebab pada ketika lain ketika melintas sawah pulang sekolah saya dan beberapa temanku mengambil buah “krai” atau mentimun hijau di sawah seseorang, kami diteriaki sebagai pencuri. Pemilik tanaman “krai” itu berlari menghampiri kami, sehingga impulsif kami pun berlari.
Pemilik sawah "krai" tidak berhasil menangkap kami. Saya pulang ke rumah dengan merasa "selamat". Tetapi ternyata entah bagaimana ceritanya, Ibu saya kesannya tahu kejadian itu. Saya dipanggil, dikonfirmasi semua hal yang terjadi. Dan dengan menunduk aib saya menceritakan semua yang terjadi.
Kemudian tiba-tiba Ibu beranjak menghampiri saya. Satu tangannya menjewer pendengaran saya. Ibu menyeret saya berjalan, sambil terus menjewer pendengaran saya : menuju rumah orang yang "krai”-nya saya curi. Letaknya hampir satu kilometer di desa sebelah. Semua tetangga yang kami lewati berlarian keluar rumah untuk menyaksikan betapa Ibu menjewer dan menyeret saya.
Dengan penuh rasa aib dan panas pendengaran oleh jeweran dan seretan Ibu, sampailah kami di rumah “Pak Krai”. Beliau sangat kaget didatangi oleh Ibu, dengan jeweran tangan di pendengaran saya tak dilepaskan entah hingga kapan. Kami dipersilakan masuk, tetapi Ibu menolak. Ia memerintahkan kepada saya untuk menyatakan kepada Pak Krai bahwa saya telah mencuri krai di sawahnya. Kemudian saya minta maaf sambil menyatakan siap mendapatkan eksekusi atas kesalahan saya.
Ibu sendiri juga menambahkan ajakan maaf kepada dia atas kelakuan jelek anaknya. Pak Krai tampak kebingungan oleh adegan itu. Malah tiba-tiba masuk ke dalam rumahnya. Agak cukup lama. Kemudian keluar lagi dengan membawa keranjang berisi berpuluh-puluh krai. Ia menyodorkannya ke tangan saya. Saya mendongak menatap wajah Ibu saya.
Ibu melepaskan jeweran tangannya dari pendengaran saya. Kemudian Ibu berjongkok dan menekan bahu saya supaya juga berjongkok. Ibu menyuruh saya untuk mengulang ajakan maaf, lalu menghaturkan terima kasih. Pak Krai tidak berkata sepatah kata pun. Ia hanya turut berjongkok. Wajahnya memancarkan adonan antara heran, bingung, bersyukur dan gembira. Ia mengulang menyodorkan keranjang itu supaya tangan saya menentengnya.
Di usia udzur saya sekarang, pengalaman saya hari itu memberi pemahaman hidup melebihi apa yang saya peroleh di Sekolah dan Pesantren. Ketika itu saya duduk di kelas 3 SD. Beberapa tahun lalu di Pesantren saya menyaksikan Santri yang mencuri menabuh genderang ke seputar Pesantren di depan pondok-pondok kawasan tinggal para Santri. Di dadanya terpampang kardus yang ditalikan dari lehernya, bertuliskan “Saraqtul-libas”: saya telah mencuri pakaian.
Di dunia modern yang beradab, para raksasa pencuri alias koruptor dilindungi di bilik-bilik tertutup. Tidak dijewer telinganya dan diseret untuk menemui rakyat, meminta maaf sambil berjongkok. Juga tidak dikasih kardus di dadanya bertuliskan “Saya Koruptor” lalu menabuh genderang jalan kaki di jalan-jalan protokol hingga ke kampung-kampung.
Negara dan Pemerintah tidak menerapkan formula eksekusi yang mempermalukan para koruptor di depan rakyat. Bukan alasannya para koruptor dilindungi dan disembunyikan dari rakyat. Melainkan alasannya sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa tindakan mempermalukan hanya efektif untuk mereka yang punya rasa malu.
Yogya, 19 September 2017
Emha Ainun Nadjib
#Khasanah
https://www.caknun.com/2017/mempermalukan-koruptor/