Tiba-tiba menjelang tidur kemarin saya diserbu oleh rasa takut yang luar biasa. Besok jikalau saya berdiri tidur, keluar rumah, bertemu dengan suatu “hawa” kehidupan yang sebetulnya sudah kurasakan semenjak sangat usang – tetapi tiba-tiba itu menjadi sangat menakutkan. Bahkan mengerikan.
Yakni suatu keadaan sejarah di mana insan sudah menjadi sangat tidak percaya kepada aturan alam dan “pakem” sebab-akibat dalam kehidupan. Manusia sudah memperoleh sejumlah pengalaman sehingga, terutama di tahun-tahun terakhir Indonesia: berbuat jelek bisa disembunyikan sedemikian rupa di lubuk ruang dan di balik waktu.
Melakukan kelaliman terbukti bisa tidak tertangkap lembap hingga berapa usang pun prosedur sejarah berlangsung. Mencuri, mengutil, korupsi, bahkan menjambret atau merampok – bisa tidak sukar disembunyikan dari pengetahuan umum. Mengerjakan pelanggaran-pelanggaran semendasar apapun secara konstitusional, yuridis, moral, etis, bahkan hingga tingkat menentang aturan kekuasaan Tuhan pun – bisa dikamuflase, disamarkan atau ditutupi dengan cara yang bisa sangat sederhana, atau dengan perangkat yang mudah dan tidak pelik.
Ketakutan sangat merundungku. Tak bisa kuusir bayangan contohnya bahwa narapidana di penjara tidak tidak mungkin tidak tinggal di penjara. Minimal bisa berakhir pekan di rumah bersama keluarganya. Atau bisa keluar bui kapan memerlukannya. Bahwa bisa jadi ada sejumlah penghuni penjara yang sebetulnya tidak bersalah, atau sebaliknya mungkin sangat banyak orang bersalah yang hidup bebas di luar penjara.
Ada banyak lubang-lubang syubhat di antara aturan dengan kenyataan. Ada banyak titik-titik relativitas di tekstur padatan-padatan pasal hukum. Ada garis-garis kabur yang debatable. Bahkan versi-versi penafsiran atas kalimat dan kata dalam teks aturan bisa bukan hanya berbeda, bahkan bertentangan sangat ekstrem. Ini menyempurnakan “rasa bersama” wacana ketidakpastian aturan yang memenuhi udara yang dihirup oleh setiap orang setiap dikala dan di setiap tempat.
Tak bisa kuhapus dari memori saraf otakku kesulitan untuk menemukan apakah mungkin ada pejabat yang tidak melaksanakan korupsi. Bagaimana caranya meyakini bahwa sebetulnya masih ada pengurus Negeri ini yang murni mengabdi. Yang nothing to lose terhadap kekuasaan dan jabatan. Secara keseluruhan menyerupai tidak mungkin untuk menemukan teladan berpikir dan persepsi bahwa masa depan yang akan kita jalani akan tidak menuju kehancuran.
Aku tidak punya ilmu yang cukup untuk menilai dan menyimpulkan hal-hal wacana kemajuan atau kemandegan laju Negara. Tentang sukses atau gagalnya pemerintahan. Sebab andaikan pun saya bisa menandakan kesuksesannya, para penguasa tidak memerlukan pengakuanku. Dan seandainya saya bisa menandakan kegagalan mereka, saya dibentur oleh tiga tembok. Pertama, yang sedang berkuasa niscaya tidak memerlukan kepercayaan kepada kesimpulanku. Kedua, rakyat yang menyembah penguasa tak akan sudi pada kesimpulanku, sementara rakyat lain yang mengalami dan mencicipi sebagaimana kesimpulanku, tak akan pernah yakin dan mantap terhadap kesimpulanku.
Adapun tembok ketiga, sangat gampang memakai banyak sekali macam perangkat komunikasi dan informasi, untuk menghapus, membalik, memanipulasi atau justru menunggangi kesimpulanku, untuk dengan pembalikan logika: dipakai untuk mencuci otak rakyat yang dikuasainya.
Akan tetapi yang paling mendalam membuatku ketakutan yakni lantaran melihat semakin banyak manusia, terutama yang berada di wilayah kekuasaan, yang semakin berani untuk berbuat tidak baik. Semakin gagah dan mantap untuk berbuat lalim. Tidak merasa bersalah ketika berbuat salah. Tidak merasa aib tatkala melaksanakan sesuatu yang memalukan. Tidak tampak tersiksa hati kemanusiaannya ketika melukai rakyat.
Bahkan mengekspresikan ketenangan yang luar biasa ketika mengingkari janji, ketika gagal mewujudkan sesumbarnya, atau ketika menyakiti masyarakat yang dia atau mereka berposisi memanggul tanggung jawab kepada rakyat yang menggajinya. Pelaku korupsi yang tertangkap tangan, direkam oleh kamera dan dipublikasikan, tampil gagah perkasa, tegap langkahnya, penuh senyuman yang menantang, mengekspresikan keanggunan menyerupai pemain drama masyhur yang menapaki tangga naik panggung.
Semakin banyak pejabat atau penguasa yang perilakunya mencerminkan keyakinan bahwa jikalau Tuhan bilang “Siapa melaksanakan kebaikan, memperoleh balasannya. Dan siapa yang melaksanakan keburukan, akan juga mendapat balasannya”: itu bisa sama sekali tidak terjadi. Semakin banyak tokoh dan pemuka pemerintahan dan Negara yang sikapnya seakan-akan menertawakan “becik ketitik olo ketoro”. Senyuman mereka seakan mengucapkan “Ah, itu omong kosong”.
Manusia sangat yakin untuk menempuh jalan yang di depan sana terdapat kebuntuan atau jurang. Manusia sangat mantap melaksanakan banyak sekali hal yang akan menghancurkannya. Lembaga-lembaga sejarah, Negara, Ideologi, madzahib kemajuan dan makharij peradaban, membangun segala sesuatu yang ujungnya yakni jebakan, ranjau-ranjau, tikungan buntu dan tipudaya. Aku memerdekakan itu semua. Dan saya sendiri memperoleh kemerdekaan darinya
Tak bisa kuusir bayangan wacana penguasa yang akan jatuh hina. Tetapi insan toh sudah tidak peduli pada kehinaan dirinya. Ada bayangan wacana pemenang yang kecélé oleh prasangka kemenangannya. Bahkan akan jinebol (dijebol) dari singgasananya, binedhol (dicabut) dari maqam-nya, serta tinundhung (diusir) dari persemayamannya. Tetapi idiom itu tak berlaku bagi insan yang semenjak semula memang tidak memahami prinsip maqamat dan darrajat.
Yogya, 15 September 2017
Emha Ainun Nadjib
#Khasanah
https://www.caknun.com/2017/keberanian-untuk-lalim/